Merahputih.com - Pengamat politik Ubedilah Badrun tak setuju jika Indonesia mesti merujuk Korea Selatan dan Selandia Baru dalam hal penanganan kasus COVID-19. Kedua negara itu cenderung lebih baik dari segi teknologi kesehatan hingga disiplin warganya dibandingkan Indonesia.
"Sehingga kedua negara tersebut berani mengambil keputusan cepat untuk melakukan pelonggaran. Sementara Indonesia sarana teknologi kesehatan dan disiplin masyarakatnya masih rendah," kata Ubedillah kepada wartawan, Senin (18/5).
Baca Juga:
Pemprov DKI Siapkan Dua TPU untuk Pemakaman Korban Virus Corona
Saat ini, yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan tidak melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai dari daerah sekitar DKI Jakarta.
Menurutnya, kasus virus corona di daerah-daerah seperti DKI Jakarta, Bogor, Bandung, dan Bali masih fluktuatif dan berpotensi muncul kasus yang baru.
"Adanya rekomendasi pelonggaran PSBB patut diragukan (urgensinya)," jelas dia.
Ubedilah mencontohkan tes polymerase chain reaction (PCR) yang dilakukan pada 1.065 orang di DKI Jakarta pada 15 Mei 2020. Hasilnya, ada 116 orang positif COVID-19.
Baca Juga:
Banyak Masyarakat Kerja dari Rumah, Arus Lalu Lintas di Ibu Kota Lancar
"Positif COVID-19 dengan jumlah lebih dari 100 dari 1.065 orang bukanlah jumlah yang biasa," ujarnya. (Knu)