Kesehatan

Penelitian Ungkap Ibu Hamil dapat Berikan Antibodi ke Bayinya

P Suryo RP Suryo R - Selasa, 02 Februari 2021
Penelitian Ungkap Ibu Hamil dapat Berikan Antibodi ke Bayinya

Peneliti masih kesulitan membuktikan vaksin dapat membantu janin. (Foto: bumil-Pexels/Amina Filkins)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEBUAH studi baru menunjukkan bahwa antibodi dapat ditransfer melalui plasenta, dan bayi dapat menerima lebih banyak pelindungan jika seorang ibu terinfeksi COVID-19 di awal kehamilannya.

Itulah salah satu dari banyak pertanyaan besar yang coba diuraikan para ilmuwan: Apakah orang yang tertular COVID-19 selama kehamilan akan menurunkan kekebalan alami pada bayi mereka.

Baca Juga:

Ibu Hamil dan Menyusui Tidak Direkomendasikan Ikut Vaksinasi

bumil
Antibodi COVID-19 dapat melewati plasenta. (Foto: 123RF/Jintana Pokrai)

Studi terbaru telah mengisyaratkan bahwa itu mungkin. Dan, temuan baru yang diterbitkan Jumat (29/1) di jurnal JAMA Pediatrics itu menjawab potongan teka-teki lain serta menawarkan lebih banyak bukti bahwa antibodi COVID-19 dapat melewati plasenta.

“Apa yang kami temukan cukup konsisten dengan apa yang telah kami pelajari dari penelitian tentang virus lain,” kata Scott E. Hensley, seorang profesor mikrobiologi di Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania, salah satu penulis senior dari penelitian tersebut seperti diberitakan nytimes.com (1/2).

Dia menambahkan, penelitian tersebut menunjukkan, perempuan tidak hanya mentransfer antibodi ke janin mereka, tetapi juga mentransfer lebih banyak antibodi ke bayi mereka jika mereka terinfeksi di awal kehamilan. Penemuan ini dapat berimplikasi pada kapan perempuan harus divaksinasi terhadap COVID-19.

Dr. Hensley menambahkan, memvaksinasi perempuan di awal kehamilan mungkin menawarkan lebih banyak manfaat perlindungan, "Tetapi studi yang sebenarnya menganalisis vaksinasi di antara perempuan hamil perlu dilanjutkan."

Baca Juga:

Minuman Terbaik untuk Ibu Hamil

bumil
Bayi sudah memiliki antibodi dari ibunya. (Foto: 123RF/BUNDIT BINSUK)

Dalam studi tersebut, para peneliti dari Pennsylvania menguji lebih dari 1.500 perempuan yang melahirkan di Rumah Sakit Pennsylvania di Philadelphia antara April dan Agustus 2020. Dari jumlah tersebut, 83 wanita ditemukan memiliki antibodi COVID-19. Setelah persalinan, 72 bayi di antaranya dinyatakan memiliki antibodi COVID-19 yang diperoleh melalui darah tali pusat, terlepas dari apakah ibu mereka memiliki gejala atau tidak.

Menurut Dr.Karen Puopolo, seorang profesor pediatri di Universitas Pennsylvania dan salah satu peneliti senior, sekitar setengah dari bayi-bayi itu memiliki tingkat antibodi yang sama atau lebih tinggi daripada yang ditemukan dalam darah ibu mereka. Selain itu, pada sekitar seperempat kasus, kadar antibodi dalam darah tali pusat 1,5 hingga 2 kali lebih tinggi daripada yang terkonsentrasi pada ibu. Jumlah itu menurut Dr. Puopolo dinilai cukup efisien

Para peneliti juga mengamati bahwa semakin lama jangka waktu antara dimulainya infeksi COVID-19 perempuan hamil dan persalinannya, semakin banyak antibodi yang ditransfer, demikian sebuah temuan yang telah dicatat di tempat lain.

Antibodi yang melintasi plasenta adalah imunoglobulin G, atau IgG, antibodi, jenis yang dibuat beberapa hari setelah terinfeksi dan dianggap menawarkan perlindungan jangka panjang terhadap virus corona.

Baca Juga:

Bunda, Ini Penyebab Suara Serak saat Hamil

bumil
Bayi tidak terinfeksi COVID-19. (Foto: 123RF/Jacek Sopotnicki)

Tidak ada bayi dalam penelitian ini yang ditemukan memiliki antibodi imunoglobulin M, atau IgM, yang biasanya hanya terdeteksi segera setelah infeksi, menunjukkan bahwa bayi tersebut tidak terinfeksi virus corona tapi memiliki antibodi seperti pernah terinfeksi.

Para ahli belum tahu apakah jumlah antibodi yang diturunkan ke bayi cukup untuk mencegah bayi baru lahir terkena COVID-19. Dan karena hanya beberapa bayi dalam penelitian ini lahir prematur, para peneliti tidak dapat mengatakan apakah bayi yang lahir lebih awal mungkin kehilangan antibodi pelindung tersebut. Para peneliti tersebut juga mencatat, karena hasil mereka hanya dari satu fasilitas kesehatan, temuan tersebut perlu direplikasi lebih lanjut.

Plasenta adalah organ yang kompleks, dan salah satu yang belum dipelajari dalam konteks pandemi ini, kata Dr. Denise Jamieson. Dia adalah dokter kandungan di Universitas Emory di Atlanta dan anggota kelompok ahli COVID-19 di American College of Obstetricians and Gynecologists, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Dan lebih banyak penelitian diperlukan untuk lebih memahami apakah antibodi yang dihasilkan vaksin berperilaku sebanding dengan antibodi dari infeksi COVID-19, kata Dr. Andrea G. Edlow, asisten profesor kebidanan, ginekologi dan biologi reproduksi di Harvard Medical School.

Baca Juga:

Ibu Hamil Berisiko Terkena Osteoporosis

bumil
Masih jadi pertanyaan efisiensi vaksin COVID-19 dapat melewati plasenta. (Foto: 123RF/Alina Vasylieva)

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell pada bulan Desember, misalnya, Dr. Edlow dan koleganya menemukan bahwa antibodi COVID-19 dari infeksi alami mungkin kurang efisien melewati plasenta daripada antibodi yang diproduksi setelah vaksinasi untuk flu dan batuk rejan atau pertusis.

“Yang benar-benar ingin kami ketahui adalah, apakah antibodi dari vaksin secara efisien melewati plasenta dan melindungi bayi, seperti yang kami ketahui terjadi pada influenza dan pertusis,” kata Dr. Jamieson.

Para ahli tidak tahu apakah vaksin COVID-19 akan bekerja seperti cara ini, karena sebagian karena perempuan hamil dikeluarkan dari uji klinis awal.

“Masuk akal bahwa vaksin Covid akan menawarkan perlindungan bagi ibu hamil dan bayinya. Bagi saya, studi ini menyoroti bahwa menyertakan wanita hamil dalam uji klinis seperti vaksin COVID-19 sangat penting, terutama ketika manfaat vaksinasi lebih besar daripada potensi risiko penyakit yang mengancam jiwa,” Dr. Mark Turrentine, anggota kelompok ahli COVID-19 di A.C.O.G. menyimpulkan. (aru)

Baca Juga:

Ibu Hamil? Yuk Kenali Perbedaan Kontraksi Palsu dan Sejati

#Kesehatan #Ibu Hamil #Wanita Hamil #Perempuan Hamil
Bagikan
Ditulis Oleh

P Suryo R

Stay stoned on your love

Berita Terkait

Berita Foto
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Ketua Tim Bidang Penyusunan Rencana Prioritas Pemanfaatan Dana Desa, Sappe M. P. Sirait saat Program Keluarga Sigap di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 15 Januari 2026
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Indonesia
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Ratusan pengungsi pascabanjir bandang di Aceh Tamiang mengalami berbagai penyakit seperti ISPA hingga diare. Tim Dokkes Polri turun beri layanan kesehatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Januari 2026
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Indonesia
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Pemerintah DKI telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ihwal Super Flu ini.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Indonesia
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Dikhawatirkan, penyakit ini berdampak pada beban layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Indonesia
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Indonesia
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar jenis virus ini.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Lifestyle
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Siloam Hospitals Kebon Jeruk memiliki dan mengoperasikan tiga sistem robotik, yakni Da Vinci Xi (urologi, ginekologi, bedah digestif, dan bedah umum), Biobot MonaLisa (khusus diagnostik kanker prostat presisi tinggi), dan ROSA (ortopedi total knee replacement).
Dwi Astarini - Jumat, 19 Desember 2025
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Indonesia
Puan Soroti Kematian Ibu Hamil Usai Ditolak 4 RS di Jayapura, Minta Evaluasi Total Layanan Kesehatan 3T
Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyoroti kematian ibu hamil usai ditolak empat rumah sakit di Jayapura, Papua.
Soffi Amira - Selasa, 25 November 2025
Puan Soroti Kematian Ibu Hamil Usai Ditolak 4 RS di Jayapura, Minta Evaluasi Total Layanan Kesehatan 3T
Indonesia
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Pemkot segera mulai menyiapkan kebutuhan tenaga medis, mulai dari dokter hingga perawat.
Dwi Astarini - Senin, 24 November 2025
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Bagikan