Merahputih.com - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyampaikan beberapa rekomendasi kepada pemerintah terkait penyebaran infeksi Covid-19. Rekomendasi itu bertujuan untuk meredam kepanikan di kalangan masyarakat.
Ketua Satgas Kewaspadaan dan Kesiagaan Covid-19, Prof Dr Zubairi Djoerban menyampaikan, bahwa masyarakat perlu menghindari sikap menanggapi penyebaran Covid-19 secara berlebihan.
"Masker memang paling penting, tapi hanya dianjurkan untuk orang sakit. Orang sehat tidak perlu menggunakan masker. Masker wajib digunakan untuk orang sakit," kata Dr Zubairi di Kantor IDI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3).
Baca Juga:
Cegah Wabah Corona, Google Minta 8.000 Karyawan Bekerja dari Rumah
Masker ditujukkan kepada orang sakit agar penyakitnya tak menyebar kemana-mana. Industri masker saat ini meningkat hingga 40%. Akan tetapi, sampai saat ini dunia masih kekurangan masker.
"Selain stok masker, Indonesia juga membutuhkan makanan, respirator, dan oksigen. Oksigen sangat dibutuhkan dan rumah sakit harus memiliki stok oksigen yang memadai," sebutnya.
Menurutnya, gejala Covid-19 akan berlangsung mulai 2 sampai 14 hari. Selain itu, lanjutnya, gejala lain, adalah demam, suhu badan meningkat drastis, sesak nafas, batuk, pilek, dan nyeri otot. Sementara, ketersediaan sampel laboratorium perlu ditambahkan.
"Disarankan untuk menambah lebih banyak laboratorium untuk tes. Juga, perlu media pengiriman dan pengambilan," lanjutnya.
Dokter spesialis paru, Dr Erlina menambahkan, bahwa masyarakat tidak perlu panik dalam menanggapi informasi penyebaran Corona Covid-19.
"Sampai saat ini kita belum menemukan obat yang bisa mengobati atau mencegah penularan virus Corona. Jadi, masyarakat jangan memborong habis rempah-rempah yang dianggap mampu mengobati penyakit tersebut," kata Erlina.
IDI juga berpesan, agar pemerintah harus terus menginformasikan tentang perkembangan penyakit Covid-19 di Indonesia, dengan cara yang tidak membuat panik masyarakat.
PB IDI mendorong perluasan screening di bandara/pelabuhan untuk seluruh penumpang pesawat/kapal yang berasal dari luar negeri. Langkah itu tidak terbatas pada negara-negara yang terjangkit.
Kedua, memberikan edukasi tentang Covid-19 dan pencegahannya secara regular melalui media massa dan memastikan edukasi ini juga dilakukan di sleuruh instansi pemerintah pusat, provinsi, kota/kabupaten, kecamatan, sekolah, dan universitas di seluruh Indonesia baik negeri maupun swasta.
Ketiga, memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai Covid-19 dari mulai definisi, gejala, dan pemeriksaan yang dapat dilakukan sehingga masyarakat secara sukarela memeriksakan diri.
Keempat, memberikan informasi terkini kepada masyarakat tentang situasi Covid-19 secara regular dengan lebih transparan serta memberikan klarifikasi terhadap hoax yang tersebar untuk meredam keresahan masyarakat. Kelima, menambah jumlah rumah sakit rujukan baik pemerintah maupun swasta.
Baca Juga:
Cegah Penyebaran Virus Corona, Sharp Sulap Pabrik TV jadi 'Pabrik' Masker
Keenam, menambah jumlah laboratorium untuk mampu melaksanakan pemeriksaan deteksi Covid-19. Ketujuh, memastikan ketersediaan VTM dan alat untuk swab yang sesuai dengan standar di seluruh dinas kesehatan.
Kedelapan, memastikan sample handling yang baik agar spesimen yang dikirim dari berbagai RS di Indonesia terjangka sehingga apapun hasil pemeriksaan akan dipercaya semua pihak. (Knu)