MerahPutih.Com - Destinasi wisata Indonesia dinilai pengamat ekonomi Faisal Basri masih perlu didiversifikasi lagi. Sebab, selama ini destinasi wisata di Indonesia hanya di dominasi tempat-tempat yang sudah telanjur dikenal orang atau wisatawan.
Pariwisata Indonesia didesak perlu mengembangkan tujuan wisata baru. Biar tidak membosankan dan mengurangi wisatawan untuk pergi ke luar negeri.
"Oleh karena itu, diversifikasi tujuan wisata dan peningkatan daya tariknya sangat penting untuk meredam fenomena tersebut, selain itu penentuan harga dan keseimbangan outbond-inbound," kata Faisal Basri dalam acara Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018 di Jakarta, Rabu (1/11).
Hal senada disampaikan Senior Vice-President, Government and Industry Affairs, World Travel and Tourism Council - World Travel & Tourism Council (WTTC) Helen Marano yang mengatakan Indonesia memiliki potensi yang besar namun memiliki "pekerjaan rumah" di antaranya untuk mendistribusikan jumlah wisatawan atau traveller secara lebih merata.
"Selain juga perlu mengedukasi pelaku industri pariwisata konvensional mengarah pada digital marketing," katanya.
Sementara Head of Destination Marketing Asia Pacific TripAdvisor Sarah Mathew mengatakan potensi dan prospek pariwisata semakin tampak cerah dimana pihaknya mencatat dalam setahun terakhir ada peningkatan 30 persen wisatawan yang memilih Asia Pasifik termasuk Indonesia sebagai destinasi wisata.
Oleh karena itulah, sebagai penyelenggara ITO 2018 Ketua Umum Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) Fathurrokhim mengatakan peran industri pendukung mulai dari asuransi, maskapai, asosiasi, hingga gabungan pelaku industri pariwisata sangat penting untuk mendukung pariwisata Indonesia agar semakin cerah prospeknya.
"Mengemas prospek dan tantangan pariwisata dalam Indonesia Tourism Outlook 2018 menjadi sesuatu yang amat membanggakan ketika banyak pemangku kepentingan kemudian peduli dan memberikan masukan yang berarti," katanya.
Di samping itu, kata dia, keativitas pemerintah daerah untuk mengembangkan pariwisata daerahnya menjadi faktor pendukung penting lainnya agar pariwisata Indonesia makin maju.
Sebagaimana disampaikan praktisi marketing Yuswohady bahwa era "leisure economy" sudah menjelang ketika masyarakat beralih untuk membeli produk ke membeli "pengalaman" maka dari situlah kemudian pariwisata menjadi sektor yang amat prospektif untuk dikembangkan.
Menteri Pariwisata Arief Yahya sebagaimana dilansir Antara dalam sambutannya menggarisbawahi bahwa Indonesia memiliki prospek dan potensi pariwisata yang besar meski menghadapi tantangan berat di bidang digital marketing, pengembangan pariwisata berkelanjutan, dan kelembagaan.
"Namun tiga deregulasi signifikan telah diterapkan di antaranya pemberlakuan visa free, penyederhaan perizinan yacht atau kebijakan CAIT dan Cruise Cabotage Principle," kata Arief Yahya.(*)