Kesehatan Mental

Open Relationships, Kunci untuk Lebih Bahagia?

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 14 Juni 2021
Open Relationships, Kunci untuk Lebih Bahagia?

Pernikahan di masa kini tak lagi sama. (foto: unsplash/nathan walker)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PERNIKAHAN masa kini tidak seperti dulu. Untuk sebagian besar sejarah manusia, pernikahan dipandang sebagai pengaturan ekonomi dengan suami dan istri memenuhi kewajiban khusus yang berpusat pada membesarkan anak-anak dan memelihara harta keluarga. Pada abad ke-19, gagasan menikah karena cinta dipandang sebagai hal yang ideal, dan pada abad ke-20 sudah menjadi norma.

Namun, di abad ke-21, kita berharap lebih dari pernikahan. Kita ingin pasangan menjadi belahan jiwa kita—satu-satunya orang di dunia yang memenuhi semua kebutuhan sosial, emosional, dan seksual.

Menurut ilmuwan di bidang hubungan percintaan Eli Finkel, kita berharap begitu banyak dari hanya satu orang sehingga kita akhirnya 'mencekik' pernikahan. Ketika 'belahan jiwa' gagal memenuhi salah satu kebutuhan, kita bingung karena tidak ada orang lain yang bisa diandalkan.

BACA JUGA:

Lucu atau Pintar, Mana yang Penting Ketika Berkencan?

Untuk memberi pernikahan kita lebih banyak 'oksigen', kita perlu lebih mengandalkan orang lain untuk melayani sebagai sahabat dan orang kepercayaan. Namun, apa yang terjadi ketika pasangan kita tidak mau atau tidak mampu memenuhi kebutuhan seksual?

"Hubungan intim dimulai dengan hasrat seksual tingkat tinggi untuk kedua pasangan, tetapi setelah beberapa tahun hasrat yang membara itu berubah menjadi cahaya keterikatan yang hangat," ujar profesor psikologi di Georgia Gwinnett College, AS, David Ludden, Ph.D. dalam artikel yang ditulisnya di Psychologytoday.com (4/6).

cincin
Poliamori mirip dengan pernikahan terbuka, tapi pasangan primer dan sekunder memiliki keterikatan hubungan. (123RF/nadtochiy)

Menurutnya, pada titik ini, salah satu pasangan (biasanya laki-laki, tetapi tidak selalu), menginginkan lebih banyak seks daripada yang lain. Beberapa pasangan berhasil menegosiasikan kompromi yang sesuai, tetapi sering kali frekuensi seks ditentukan oleh pasangan yang berhasrat rendah, membuat yang lain frustrasi terus-menerus.

"Jika pasangan dapat memenuhi kebutuhan psikologis lain di luar pernikahan, mereka harus dapat pergi ke luar hubungan untuk memenuhi kebutuhan seksual. Ini adalah logika di balik non-monogami konsensual, di mana pasangan yang sudah menikah mengizinkan satu sama lain untuk mengambil pasangan seks tambahan," Ludden menjelaskan.

Namun, apakah orang-orang dalam hubungan terbuka lebih bahagia daripada rekan-rekan monogami mereka? Inilah pertanyaan yang dieksplorasi oleh psikolog Universitas York (Toronto) Amy Muise dan rekan-rekannya dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships.


Dinamika Non-Monogami Konsensual


Dalam membahas non-monogami konsensual atau disingkat CNM (consensual non-monogamy), kita perlu membedakan antara hubungan primer, yang mengacu pada dua pasangan asli dalam hubungan berkomitmen, dan hubungan sekunder yang dibangun masing-masing pasangan dengan kekasih di luar nikah mereka. Menurut Ludden, CNM hadir dalam tiga variasi:

1. Pernikahan Terbuka atau Open Marriages


Setiap pasangan dapat mengambil satu atau lebih pasangan intim, umumnya di bawah seperangkat aturan yang disepakati sebelumnya. Biasanya, pasangan utama tidak bersosialisasi dengan masing-masing pasangan sekunder mereka.

2. Swinging


Pasangan bertukar pasangan dengan satu atau lebih pasangan lain untuk malam itu, tetapi mereka biasanya pulang bersama. Pasangan primer dan sekunder semuanya saling mengenal, tetapi seks di luar nikah hanya terjadi dalam acara swinging tersebut.

3. Poliamori


Ini mirip dengan pernikahan terbuka, kecuali bahwa pasangan primer dan sekunder saling mengenal dan memiliki keterikatan hubungan. Beberapa praktisi bahkan membentuk keluarga poli yang diperluas yang dikenal sebagai “polycules.”

Praktisi memuji kebajikan CNM, dan penelitian dari awal 1980-an menunjukkan bahwa hubungan sekunder dapat meningkatkan kepuasan dalam hubungan utama. Namun demikian, baik awam maupun spesialis hubungan sama-sama sering memiliki sikap negatif tentang pilihan gaya hidup ini.


Tiga Temuan dalam Penelitian CNM


Muise dan rekan mensurvei lebih dari 1.000 individu dalam hubungan CNM. Responden ini melaporkan sejauh mana pasangan primer dan sekunder mereka memenuhi kebutuhan seksual. Mereka juga menunjukkan kepuasan seksual dan hubungan untuk kedua pasangan.

Studi ini menghasilkan tiga temuan utama:

1. Ketika orang-orang dalam hubungan CNM dipenuhi secara seksual oleh pasangan utama mereka, mereka juga melaporkan kepuasan yang lebih besar dengan hubungan sekunder mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa setidaknya beberapa praktisi CNM tidak mencari hubungan sekunder untuk mengkompensasi kekurangan dalam hubungan utama mereka. Sebaliknya, mereka melakukannya untuk memperluas pengalaman seksual mereka secara umum.

2. Laki-laki yang lebih terpenuhi secara seksual oleh pasangan sekundernya juga menunjukkan bahwa mereka secara umum lebih puas dengan hubungan primer mereka. Temuan ini memberikan dukungan untuk gagasan bahwa meluaskan pengalaman seks ke hubungan sekunder dapat membebaskan pasangan utama untuk menyediakan kebutuhan lain, seperti persahabatan dan dukungan emosional. Namun, penting untuk dicatat bahwa hanya pria yang diuntungkan dengan cara ini.

Tak ayal pola ini muncul karena pria umumnya memiliki dorongan seks yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Dengan demikian, membuka pernikahan memberi mereka cara alternatif untuk memenuhi kebutuhan seks mereka, dan sebagai hasilnya mereka lebih puas dengan jenis dukungan lain yang diberikan istri mereka. Bisa jadi perempuan dengan dorongan seks yang lebih tinggi daripada suami mereka juga bisa mendapatkan keuntungan dari outlet seksual alternatif.

3. Perempuan yang lebih dipenuhi secara seksual oleh pasangan sekundernya menunjukkan kepuasan seksual yang lebih rendah dalam hubungan primernya. Penting untuk diingat bahwa data ini bersifat korelasional, jadi tidak jelas apa penyebabnya. Bisa jadi begitu seorang perempuan menemukan kekasih yang memuaskan, dia menyadari betapa mengecewakan suaminya di tempat tidur. Namun, menurut Ludden, lebih masuk akal untuk menafsirkan asosiasi ini ke arah yang berlawanan. Yaitu, perempuan (seperti laki-laki) mencari pasangan sekunder justru karena mereka tidak puas secara seksual dalam hubungan utama mereka.


Secara keseluruhan, tiga temuan itu mendukung gagasan bahwa nonmonogami konsensual dapat memberikan 'oksigen' untuk pernikahan yang 'mencekik'. Ketika hasrat seksual merosot dalam hubungan yang sudah mapan, pasangan dengan dorongan seks yang lebih tinggi dapat memenuhi kebutuhan seksualnya dengan pasangan sekunder, membebaskan pasangan utama untuk memberikan lebih banyak hal terbaik yang mereka dapat lakukan: persahabatan dan dukungan emosional.

"Dengan mengabaikan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan seksual pasanganmu, kamu mengurangi stres dalam pernikahan dan membiarkan lebih banyak emosi positif menang," kata Ludden.

Sementara itu, CNM memberikan manfaat bagi banyak dari mereka yang mempraktikkannya, ada juga kesulitan yang cukup besar untuk diatasi, sehingga sulit bagi banyak orang untuk berhasil melakukannya. "Kesulitan yang paling jelas adalah kecemburuan. Perasaan itu harus diganti dengan perasaan bahagia karena melihat kebahagiaan pasangan," dia menekankan.

Selain itu, menurutnya, praktisi CNM harus terampil dalam berkomunikasi, karena aturan dasar harus ditetapkan dengan jelas sebelumnya dan tidak ada yang bisa dirahasiakan atau disembunyikan. "Bagi mereka yang bisa melewati rintangan ini, non-monogami konsensual bisa menjadi pengalaman yang menyegarkan," demikian Ludden. (aru)

#Relationship #Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Selama ini, kesehatan mental masih belum ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam sistem membangun kesehatan daera
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Bagikan