Lingkungan

Minyak Sawit Sintestis Solusi Alternatif Penyelamat Hutan

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Rabu, 16 Desember 2020
Minyak Sawit Sintestis Solusi Alternatif Penyelamat Hutan

Minyak sawit sintetis punya potensi selamatkan lingkungan. (Foto: 123RF/Tsikhan Kuprevich)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

JIKA kamu khawatir dengan penggundulan hutan dan berkurangnya keanekaragaman hayati akibat hutan sawit, mengganti minyak goreng biasa dengan canola oil tidaklah cukup.

Produk kecantikan yang kamu gunakan sehari-hari banyak yang dibuat dengan minyak sawit. Industri kecantikan pun bertanggung jawab atas berkurangnya habitat spesies yang sudah terancam punah seperti orangutan, gajah kerdil, dan badak Sumatera.

Baca juga:

Mulai Beralih Pada Sabun Organik yang Ramah Lingkungan

Namun, sekarang industri bioteknplogi mengatakan telah menemukan solusi, yaitu alternatif minyak sawit sintetis yang tidak melibatkan pembakaran atau pembukaan hutan.

Dikatakan bahwa penemuan ini pada akhirnya dapat menggantikan minyak sawit alami dalam segala hal mulai dari sampo, sabun, deterjen dan lipstik, hingga produk makanan seperti roti dalam kemasan, biskuit, margarin, es krim dan coklat.

"Selama 30 tahun terakhir, 50% pertumbuhan perkebunan kelapa sawit disebabkan oleh deforestasi hutan tropis dan lahan gambut. Itu benar-benar inti dari masalah yang kami coba selesaikan," kata Shara Ticku, pendiri C16 Biosciences, salah satu perusahaan bioteknologi yang merintis alternatif sintetis seperti diberitakan BBC (16/12).

Minyak Sawit Sintestis Solusi Alternatif Penyelamat Hutan
Minyak sawit sintetis mengurangi deforestasi demi kebun kelapa sawit. (Foto: 123RF/Tuammee)

Penelitian ini masih dalam tahap pra-komersial, tetapi potensinya sangat diminati. Awal tahun ini, C16 Biosciences, perusahaan rintisan berusia tiga tahun yang berbasis di New York, menerima investasi 20 juta USD (Rp283,18 miliar) dari Breakthrough Energy Ventures, dana yang didukung oleh Bill Gates dan orang-orang seperti Jeff Bezos dari Amazon, Michael Bloomberg dan Richard Branson dari Virgin.

C16 Biosciences bukan satu-satunya organisasi yang mencari alternatif sintetis. Para peneliti sedang mengerjakan sesuatu yang serupa di Universitas Bath Inggris dan di Kiverdi yang berbasis di California. "Rekayasa GM (modifikasi genetik) telah membuka kemajuan baru," kata Chris Chuck, profesor teknik bioproses di Bath.

Minyak Sawit Sintestis Solusi Alternatif Penyelamat Hutan
Proses produksi minyak sawit sintetis cukup rumit. (Foto: 123RF/Roman Zaiets)

Kesamaan yang dimiliki proyek-proyek ini adalah mereka menggunakan proses fermentasi, menggunakan tong besar dalam prosedur yang mirip dengan pembuatan bir.

Pada C16 Biosciences, hal ini melibatkan penggunaan mikroba hasil rekayasa genetika untuk mengubah limbah makanan dan produk sampingan industri menjadi produk yang secara kimiawi sangat mirip dengan minyak sawit alami.

"Itu adalah ragi, kita memberinya gula, lalu ragi tumbuh dan mereka mampu menghasilkan minyak dalam jumlah besar di dalam selnya, dan kita harus memeras minyak itu atau mengekstraknya," kata Ticku.

Saat ini, fokus dari C16 Biosciences adalah membuat prototipe, dan mendapat tannggapan balik dari perusahaan yang mungkin memilih untuk menggunakannya dalam produk mereka. Grosir makanan internasional yang berbasis di Jerman, Metro Group sudah menunjukkan minatnya.

Baca juga:

Catat! Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Merusak Lingkungan

Tetapi tantangannya sangat besar. Agar berhasil secara komersial dan dalam skala besar, alternatif sintetis harus mampu meniru keserbagunaan minyak sawit alami, menjadikannya pengganti yang cocok dalam segala hal mulai dari makanan hingga produk rumah tangga.

Minyak sawit alami memiliki tekstur yang halus dan lembut, serta tidak berbau, menjadikannya bahan yang berguna dalam banyak resep.

Produk ini semi-padat pada suhu kamar, sehingga dapat menjaga emulsi dan memiliki efek pengawet alami yang memperpanjang umur simpan produk makanan.

Tim Prof Chuck menghitung, minyak sawit sintetis dua hingga tiga kali lebih mahal daripada versi aslinya, dan itu dalam kasus terbaik, skenario paling hemat biaya. "Dalam penggunaan di mana harga adalah penting dan merupakan pendorong utama, misalnya dalam biofuel dan makanan, itu berarti alternatif sintetis akan mengalami kesulitan," jelasnya.

Itu berarti risiko alternatif sintetis menjadi produk khusus. World Wide Fund for Nature (WWF) mengatakan bahwa secara global, 70% dari 75 juta ton minyak sawit yang dikonsumsi setiap tahun digunakan sebagai minyak goreng dan bahan makanan.

Minyak Sawit Sintestis Solusi Alternatif Penyelamat Hutan
Pembakaran lahan dan pembukaan hutan untuk kebun sawit bisa berkurang. (Foto: 123RF/Asnida Marwani)

Diperkirakan konsumsi global akan meningkat menjadi antara 264 dan 447 juta ton pada tahun 2050, dengan perkiraan peningkatan permintaan lima kali lipat untuk bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit pada tahun 2030. Alternatif sintetis pada saat itu hanya dapat mengurangi produksi minyak sawit alami secara global.

Namun, hal itu tidak menghentikan Shara Ticku dari C16 Bioscience, "Kami percaya bahwa dengan platform teknologi kami, pada skala ratusan ribu kilogram per tahun, kami akan bersaing dengan biaya minyak sawit. Jika kami bisa mendapatkan cukup banyak orang untuk berubah maka bukan lagi alasan yang dibenarkan untuk membakar hutan untuk menghasilkan minyak nabati, dan itu berhasil."

Produsen minyak sawit alami terus memantau perkembangan ini. "Kami mengamati mereka dengan cermat, tetapi saya tidak berpikir bahwa secara realistis alternatif itu ada dalam hal kemampuannya untuk berproduksi dalam skala besar atau efisiensi biaya," kata Anita Neville dari Golden Agri-Resources di Indonesia, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit milik swasta terbesar di dunia. (Aru)

Baca juga:

Peti Mati Ini 'Hidup' untuk Lingkungan

#Ramah Lingkungan #Peduli Lingkungan #Kerusakan Lingkungan #Pelestarian Lingkungan #Sains
Bagikan
Ditulis Oleh

Ananda Dimas Prasetya

nowhereman.. cause every second is a lesson for you to learn to be free.

Berita Terkait

Indonesia
28 Perusahaan Tambang Nakal Kena Denda Triliunan, DPR Minta Uangnya Langsung Balik ke Rakyat Terdampak
Namun, keberanian itu harus dibarengi dengan transparansi alokasi dana denda agar tidak terjadi penyimpangan di kemudian hari
Angga Yudha Pratama - Selasa, 27 Januari 2026
28 Perusahaan Tambang Nakal Kena Denda Triliunan, DPR Minta Uangnya Langsung Balik ke Rakyat Terdampak
Indonesia
Izinnya Dicabut Prabowo, 28 Perusahaan Perusak Hutan Diminta Bertanggung Jawab
28 perusahaan perusak hutan diminta bertanggung jawab. Pencabutan izin yang dilakukan Presiden RI, Prabowo Subianto, dinilai belum cukup.
Soffi Amira - Minggu, 25 Januari 2026
Izinnya Dicabut Prabowo, 28 Perusahaan Perusak Hutan Diminta Bertanggung Jawab
Indonesia
Tambang Ilegal Marak di Kawasan Hutan, DPR Minta Sanksi Pidana hingga Pemulihan Ekologis
Anggota Komisi IV DPR RI menegaskan tambang ilegal di kawasan hutan tak bisa ditoleransi. Data Kementerian Kehutanan mencatat 191.790 hektare tambang ilegal.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Januari 2026
Tambang Ilegal Marak di Kawasan Hutan, DPR Minta Sanksi Pidana hingga Pemulihan Ekologis
Indonesia
Prabowo dan Raja Charles Bahas Konservasi, Inggris Siap Bantu Pelestarian Ekosistem Indonesia
Inggris berkomitmen membantu Indonesia melestarikan ekosistem di 57 taman nasional. Komitmen ini disampaikan saat Presiden Prabowo bertemu Raja Charles III di London.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Januari 2026
Prabowo dan Raja Charles Bahas Konservasi, Inggris Siap Bantu Pelestarian Ekosistem Indonesia
Indonesia
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Presiden Prabowo Subianto bertemu profesor dari 24 universitas top Inggris yang tergabung dalam Russell Group. Kerja sama pendidikan hingga rencana bangun 10 kampus baru di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Januari 2026
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Indonesia
Dinilai Tegas Lindungi Lingkungan, DPR Dukung Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan
Anggota Komisi IV DPR RI mengapresiasi langkah Presiden Prabowo mencabut izin 28 perusahaan perusak lingkungan penyebab banjir di Aceh, Sumbar, dan Sumut.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 21 Januari 2026
Dinilai Tegas Lindungi Lingkungan, DPR Dukung Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan
Indonesia
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Penyebab Banjir di Sumatra, ini Daftar Lengkapnya
Presiden RI, Prabowo Subianto, mencabut izin 28 perusahaan penyebab banjir di Sumatra. Berikut adalah daftar lengkapnya.
Soffi Amira - Rabu, 21 Januari 2026
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Penyebab Banjir di Sumatra, ini Daftar Lengkapnya
Indonesia
BRIN Temukan 93 Habitat Paus dan Lumba-Lumba di Barat Sumatra Berada di Luar Area Konservasi
Informasi ilmiah sahih sangat penting guna memberikan masukan bagi pemerintah dalam merancang intervensi relevan dan dapat diimplementasikan secara efektif.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Januari 2026
BRIN Temukan 93 Habitat Paus dan Lumba-Lumba di Barat Sumatra Berada di Luar Area Konservasi
Fun
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Museum MACAN meluncurkan Water Turbine Project, program pendidikan seni kolaborasi dengan Grundfos Indonesia. Angkat isu air, lingkungan, dan keberlanjutan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 18 Desember 2025
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Lifestyle
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan
Jejak-jejak yang sebagian berdiameter hingga 40 sentimeter itu tersusun sejajar dalam barisan paralel.
Dwi Astarini - Rabu, 17 Desember 2025
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan
Bagikan