Mengenal Anarko Sindikalisme dalam Unjuk Rasa
Kelompok anarko sering menjadi dalang kericuhan saat unjuk rasa. (Foto: Flickr/Osvaldo Gado)
PERNAH gak sih terlintas di benakmu, mengapa setiap kali unjuk rasa pasti berujung ricuh? Apakah memang ricuh yang direncanakan atau berjalan begitu saja? Nah katanya, unjuk rasa yang berakhir ricuh seringkali dikaitkan dengan kelompok Anarko Sindikalisme. Kira-kira, apa ya itu Anarko Sindikalisme?
Anarkisme dipahami sebagai teori skeptis tentang legitimasi politik. Anarki juga tidak memiliki aturan. Beberapa orang berpendapat bahwa kaum anarkis politik memfokuskan titik mereka pada kekuasaan negara, memandang kekuasaan koersif monopolistik yang terpusat sebagai sesuatu hal yang palsu.
Mengutip laman The Conversation, filsafat politik anarkisme muncul pada pertengahan abad ke-17 dan dicetuskan oleh pemikir Pierre-Joseph Proudhon, William Godwin, Emma Goldman, dan Max Stirner. Proudhon seringkali dikaitkan sebagai anarkis yang memproklamirkan diri pertama dan sering dilihat sebagai pendiri pemikiran anarkis klasik.
Baca juga:
Fresh Graduate Enggak Perlu Takut, Omnibus Law Bukan Jadi Halangan
Laman Merriam Webster mengartikan anarkisme merupakan suatu teori politik yang menganggap semua bentuk otoritas pemerintahan tidak diperlukan. Dalam setiap aksi, kelompok anarko kerap membawa simbol huruf A di dalam lingkaran.
Secara khusus, ia juga mengembangkan konsep tatanan spontan dalam masyarakat yang membuat organisasi dapat muncul tanpa koordinasi pusat atau atas-bawah. Istilah anarkisme berakar dari bahasa Yunani, anarchos atau anarchein, yang artinya “tanpa penguasa” atau "tanpa pemerintahan".
Kelompok anarko juga percaya bahwa serikat buruh bisa menjadi kekuatan revolusioner untuk menggantikan sistem kapitalisme. Kelompok ini juga percaya pada sistem aksi langsung, yakni aksi yang secara langsung memperoleh keuntungan sebagai lawan dari aksi tak langsung, seperti memilih perwakilan untuk duduk dalam pemerintahan.
Di akhir abad ke-19, anarkisme mulai menjadi diskursus yang koheren dengan fondasi yang lebih sistematik. Uniknya, Proudhon adalah satu-satunya tokoh yang secara terbuka mengaku dirinya sebagai seorang anarkis. Karyanya seperti What is Property, Economic Contradictions, dan The Political Capacity of The Working Classes, berdampak besar bagi pertumbuhan anarkisme sebagai gerakan massa.
Anarkisme memiliki dua aliran yang berbeda, yakni anarkisme sosial dan anarkisme libertarian. Anarkisme sosial menekankan pada masyarakat ekonomi politik yang mensosialisasikan alat-alat produksi, sedangkan anarkisme libertarian sebagian besar berkaitan dengan memastikan jumlah kebebasan maksimum bagi individu.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, anarko seringkali menyamar sebagai mahasiswa yang menggunakan almamater. Meskipun tidak semua, kelompok anarko kerap membakar ban, membawa sajam, atau terlilbat bentrok dengan polisi. Dalam konteks ini, kaum anarkis adalah mereka yang menimbulkan kekacauan dan kekerasan yang tidak ada gunanya.
Baca juga:
Contoh kasusnya adalah Pawai Sejuta Topeng di London paa 5 November 2015 lalu. Acara ini memang diselenggarakan oleh sejumlah kelompok anarkis.
Menurut Peter Kropotkin, sifat anarkisme adalah nama yang diberikan pada prinsip atau teori kehidupan masyarakat. Keharmonisan mereka diperoleh bukan dengan tunduk pada hukum atau ketaatan, melainkan dengan kesepakatan bebas yang dibuat antara berbagai kelompok, teritorial, dan profesional.
Kesepakatan itu dibentuk secara bebas demi produksi dan konsumsi, serta untuk kepuasan berbagai kebutuhan dan aspirasi makhluk beradab yang tidak terbatas.
Kelompok Anarko Sindikalisme memang sering memanfaatkan momen-momen unjuk rasa untuk membuat kekacauan. Mereka menganggap ini menjadi kesempatan untuk melancarkan aksinya di tengah kerumunan masyarakat, terutama mahasiswa.
Nah, Sobat Merah Putih, intinya, kamu harus tetap waspada dan jangan terprovokasi dengan orang yang tidak dikenal atau mencurigakan saat unjuk rasa. Jika menemukan kelompok ini, segera laporkan aparat keamanan agar unjuk rasa tidak berlangsung ricuh. (and)
Baca juga:
Aksi Tolak Omnibus Law di Solo, Puluhan Pelajar dan Kelompok Anarko Diamankan
Bagikan
Andreas Pranatalta
Berita Terkait
Kelompok HAM Sebut Sedikitnya 648 Pengunjuk Rasa Tewas dalam Penindakan di Iran, Khawatirkan Jumlahnya Bisa saja Lebih Banyak
Simulasi Baru Polri Dinilai Jadi Langkah Positif Transformasi Penanganan Unjuk Rasa
Polisi Cari Pola dan Model Pengamanan Unjuk Rasa Yang Paling Humanis
Aksi Unjuk Rasa Emak-emak Tolak MBG di Depan Gedung Badan Gizi Nasional Jakarta
Buruh Kepung Gedung MPR/DPR Hari ini (22/9), Tolak Upah Murah dan Minta Sistem Outsourcing Dihapus
Soroti Kriminalisasi Usai Aksi 25 Agustus, Legislator PDIP: Ancaman Serius bagi Demokrasi
Sempat Dilaporkan Hilang setelah Demo di Jakarta, 2 Pemuda Akhirnya Ditemukan dan Minta Maaf
Demo Ojol 17 September 2025 di Istana dan DPR, Massa Tuntut Pencopotan Menteri Perhubungan
Aksi Unjuk Rasa Tuntut Sahkan RUU Perampasan Aset di Depan Gedung DPR
Kondisi Nepal Memanas akibat Kerusuhan, Kemlu Jamin 134 WNI Tak Ada yang Jadi Korban