Merahputih.com - Beras fortifikasi tengah menjadi perhatian setelah Kementerian Pertanian (Kementan) RI mengungkap adanya produk yang diklaim sebagai beras fortifikasi, tetapi diduga tidak memenuhi standar yang ditetapkan.
Selain persoalan kandungan dan kesesuaian klaim, harga produk yang ditemukan juga menjadi sorotan.
Baca juga:
Daftar 25 Merek Beras Fortifikasi Yang Diduga Lakukan Kecurangan
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut beras fortifikasi seharusnya mendapat dukungan subsidi pemerintah karena ditujukan untuk membantu meningkatkan asupan gizi masyarakat.
Dalam pengumpulan sampel, pemerintah bahkan menemukan beras fortifikasi yang dijual hingga sekitar Rp57.000 per kilogram. Padahal, menurut Amran, harga yang seharusnya berada di kisaran Rp13.000 per kilogram.
Lantas, apa sebenarnya beras fortifikasi dan bagaimana proses pembuatannya?
Apa Itu Beras Fortifikasi?
Beras fortifikasi merupakan produk pangan yang diperkaya dengan vitamin dan mineral penting untuk meningkatkan nilai gizinya.
Sejumlah zat gizi yang dapat ditambahkan antara lain zat besi, seng (zinc), asam folat atau vitamin B9, vitamin B1, hingga vitamin B12.
Teknologi fortifikasi dikembangkan untuk membantu mempertahankan atau menambahkan kembali zat gizi yang dapat berkurang selama proses pengolahan beras.
Baca juga:
25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Rugikan Konsumen Rp 89 Triliun, Standar dan Kandungan Tidak Sesuai
Salah satu sejarah penting pengembangan beras fortifikasi terjadi di Filipina. Pada era 1940-an, Dr. Juan Salcedo Jr. mengembangkan pendekatan untuk menghadapi masalah beri-beri yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B1 atau tiamin.
Kekurangan tiamin saat itu dikaitkan dengan proses pengolahan beras. Penyisihan modern dapat mengikis lapisan luar beras yang mengandung sejumlah zat gizi.
Empat Teknologi Pembuatan Beras Fortifikasi
Mengutip publikasi yang tersedia melalui National Center for Biotechnology Information (NCBI), terdapat beberapa teknologi yang dapat digunakan untuk menghasilkan beras fortifikasi.
1. Ekstrusi panas
Dalam metode ini, tepung beras dicampur dengan vitamin atau mineral serta air. Campuran kemudian diproses menggunakan ekstruder untuk membentuk butiran yang menyerupai beras.
Butiran tersebut selanjutnya dicampurkan dengan beras biasa dan saat dimasak dapat menghasilkan nasi dengan karakteristik yang menyerupai nasi pada umumnya.
2. Ekstrusi dingin
Metode ini menggunakan proses dengan suhu lebih rendah dibandingkan ekstrusi panas. Hasilnya berupa butiran yang dapat memiliki tampilan berbeda dari beras biasa.
Butiran hasil fortifikasi kemudian dicampurkan dengan beras reguler dengan perbandingan tertentu agar kandungan zat gizi dapat tersebar dalam campuran.
Baca juga:
3. Pelapisan
Pada metode pelapisan, mikronutrien dengan konsentrasi tinggi diberikan pada sebagian beras. Butiran tersebut kemudian dilapisi menggunakan bahan yang dapat dimakan dan relatif tahan terhadap air.
Butiran yang sudah dilapisi selanjutnya dicampurkan dengan beras biasa. Salah satu tantangannya adalah kemungkinan berkurangnya lapisan atau zat gizi tertentu selama proses pencucian dan pengolahan.
4. Penaburan
Dalam metode ini, beras yang telah dipoles dicampur dengan premiks vitamin atau mineral berbentuk bubuk.
Premiks kemudian menempel pada permukaan butiran beras melalui proses tertentu sebelum dicampurkan dengan beras biasa.
3 Cara Membedakan Beras Fortifikasi
Beras fortifikasi tidak selalu memiliki tampilan yang berbeda secara mencolok dari beras biasa. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan penampilan fisik sebagai satu-satunya dasar.
Meski demikian, ada beberapa hal yang dapat diamati ketika membeli beras.
1. Tidak selalu mengkilap
Banyak klaim yang beredar di masyrakat menyeutkan bahwa beras fortifikasi punya warna yang lebih menarik dibanding dengan beras biasa. Hal tersebut tidak selalu benar. Justru beras yang terlalu menunjukan bentuk terlalu mengkilap harus diwaspadai menggunakan bahan tambahan yang tidak sesuai dengan ketentuan.
2. Aroma
Walaupun proses pengolah beras fortifikasi dengan rangkaian teknologi pangan tida berarti akan menghasilakn aroma tertentu justru jika ada beras yang diklaim fortifikasi namun menunjukkan bau yang menyengat dan tidak normal, kamu harus waspada.
3. Tekstur
Sebagai makanan, beras fortifkasi yang sudah matang menjadi nasi tidak memberikan perbedaan khusus dengan nasi biasa. Makanya ketika menemukan nasi fortifikasi dengan tekstur tertentu harus diwaspadai. (Tka)