Merahputih.com - Masyarakat dihebohkan dengan skandal beras fortifikasi palsu yang dibanderol dengan harga tak masuk akal hingga Rp57.000 per kilogram.
Menanggapi kecurangan beras fortifikasi ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman langsung turun tangan dan menegaskan bahwa produk tersebut sebenarnya dibuat khusus untuk kelompok rentan demi mencegah stunting, bukan juga untuk menggantikan beras premium.
Kasus penipuan harga beras fortifikasi ini jelas bikin geram, apalagi tujuannya sengaja dibelokkan oleh oknum pemburu rente demi meraup untung gila-gilaan dari masyarakat.
Baca juga:
Menurut Mentan Amran, fungsi beras fortifikasi sejatinya ditujukan untuk memenuhi gizi ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan masyarakat kurang mampu.
Namun mirisnya, lewat manipulasi label gizi yang belum tentu benar, puluhan produsen nakal justru menjadikannya ladang basah untuk mengeruk duit konsumen.
Modus Ganti Baju: Dari Premium ke Fortifikasi
Praktik kotor ini terbongkar dalam ekspos hasil pemeriksaan di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Selasa (15/9).
Rupanya, mafia beras mulai pintar mencari celah hukum. Ketika pemerintah mulai tegas menyikat manipulasi pada beras premium, mereka buru-buru mengganti kemasan seolah-olah menjual beras bernutrisi tinggi.
Beras fortifikasi bukan untuk menggantikan beras premium. Tetapi saat ini terjadi pergeseran. Ketika beras premium dulu ditindak, sekarang muncul beras fortifikasi. Ini bergeser,
tegas Mentan Amran.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), peredaran beras di pasaran untuk kategori premium dan fortifikasi menyentuh angka 39 persen. Namun kini, kuota premium tersebut dicurigai kuat sengaja digeser menjadi fortifikasi abal-abal.
Harga Digoreng Berkali Lipat, Konsumen Rugi Rp89 Triliun
Kamu mungkin bertanya-tanya, seberapa besar keuntungan yang diraup oknum ini? Secara hitung-hitungan logis, Mentan menjelaskan bahwa biaya tambahan produksi untuk proses fortifikasi (menambahkan vitamin/mineral ke dalam beras) cuma sekitar Rp1.000 per kilogram. Harusnya, harga jual di pasaran masih bersahabat di angka Rp13.000-an per kilogram.
Namun kenyataannya, harga beras ini digoreng hingga Rp57.000 per kilogram, menciptakan selisih keuntungan gelap sebesar Rp44.000 per kilonya.
Dari selisih harga fantastis dengan klaim nutrisi fiktif ini, negara dan konsumen ditaksir menelan kerugian raksasa hingga Rp89 triliun. Amran tentu saja sangat menyayangkan hal ini, mengingat pemerintah dari hulu ke hilir sudah jor-joran memberikan subsidi benih, pupuk, hingga traktor ke petani.
Daftar 25 Inisial Merek yang Diduga Curang
Pemerintah memang belum menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) khusus untuk kategori ini, berbeda dengan beras medium (Rp13.500 - Rp15.500) dan premium (Rp14.900 - Rp15.800). Celah ketiadaan regulasi inilah yang diakali.
Baca juga:
Daftar 25 Merek Beras Fortifikasi Yang Diduga Lakukan Kecurangan
Saat ini, Kementan sudah mengantongi daftar 25 merek beras yang diduga kuat melakukan pelanggaran label dan standar gizi. Biar kamu lebih waspada saat belanja, berikut adalah 25 inisial merek beras yang masuk daftar pantauan pemerintah:
WFO, TKS, IMF, NUR, TKL, HOK, BRV, IMR, IHJ, IAK, PBK, GNB, DTR, TKR, WJK, PLK, MKY, IMC, PTK, ARP, ARN, SKM, GNM, TAR, dan CMS.
Buat kamu yang sering berbelanja kebutuhan pokok, mulai sekarang wajib lebih teliti mengecek label dan harga. Jangan sampai niat hati membeli nutrisi ekstra untuk keluarga, malah terjebak permainan harga dari mafia pangan yang nggak bertanggung jawab.