Iran Bisa Luluh Lantahkan Sasaran Strategis AS Jika Mau
Misil Iran ke pangkalan militer AS di Irak. Foto: TeleTrader
Merahputih.com - Pengamat politik Muhammad AS Hikam berharap penurunan ketegangan di Timur Tengah masih terbuka kendati Iran telah melakukan aksi balasan berupa serangan rudal dengan target dua pangkalan militer AS di Irak.
Sebab serangan tersebut dilancarkan sebagai peringatan terhadap Trump bahwa Iran mampu melakukan perlawanan dan serangan sepadan.
Menurut Hikam, aksi serangan rudal Iran itu, lebih ditujukan untuk merespon dan mengkanalisasi kemarahan rakyatnya terhadap Trump atas terbunuhnya Jend Qaseem Soleimani dan sekaligus membuktikan bahwa mereka mampu melakukan balasan dalam bentuk aksi militer.
Baca Juga
Selain IHSG, Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Ikut Terdampak 'Counter Attack' Iran
"Jika Iran mau melakukan serangan yang lebih keras dan berdampak serius terhadap sasaran-sasaran strategis milik AS di Irak, dan bahkan di kawasan Timteng lainnya, tentu bisa juga," kata Hikam dalam keterangannya, Kamis (9/1).
Respon Trump dalam pidatonya pasca serangan balasan tersebut juga tak lagi menampilkan arogansi berlebihan. Bahkan ada yang menganggapnya membuka jalan bagi peredaan ketegangan dengan Iran.
"Kendati Trump masih mengancam akan melakukan sanksi ekonomi, dan meminta NATO untuk terlibat, namun hal itu tak akan terlalu membahayakan Iran maupun kawasan dibanding dengan jika eskalasi perang tak terbendung," jelas Hikam.
Namun, mantan Menteri di era Presiden keempat Abdurahman Wahid ini menyebut, masih terlalu pagi untuk menyimpulkan bahwa konflik AS-Iran akan usai dalam tempo singkat.
"Apalagi jika diperhitungkan kebiasaan Trump berubah pikiran dan berperilaku erratic setiap saat, sehingga bisa membuat keputusan dan melakukan aksi di luar nalar sehat yang berdampak serius terhadap kebijakan polugri dan keamanan,"jelas Hikam.
Hikam yakin, dunia menginginkan agar rakyat AS, sekutu AS di Eropa, dan masyarakat Internasional terus mendesak Trump untuk menghentikan penggunaan kekerasan dan, sebaliknya, mendorongnya melakukan deeskalasi konflik di kawasan.
"Ini sebuah keinginan yang barangkali sulit diwujudkan dalam tempo singkat, tetapi tetap layak untuk diperjuangkan," terang Hikam.
Seperti dilansir AFP, Rabu (8/1), media nasional Iran dalam pernyataannya mengumumkan serangan rudal terhadap target AS di Irak tersebut. Ditegaskan Iran bahwa 'respons yang lebih menghancurkan' akan diberikan jika AS kembali melancarkan serangan.
Militer Irak menyatakan ada 22 rudal balistik Iran mengenai dua pangkalan militer Irak yang menjadi markas tentara AS. Irak tidak menyebut serangan tersebut dilancarkan Iran.
Baca Juga
Irak hanya menyebutkan 22 rudal balistik mengenai pangkalan militer Ain al-Asad dan pangkalan militer di Arbil pada Rabu (8/1) dini hari. Dua lokasi tersebut merupakan markas tentara AS dan pasukan koalisi internasional di Irak.
Setelah Soleimani tewas, Iran mengibarkan bendera merah yang merupakan panggilan pembalasan atas tewasnya Soleimani. (Knu)
Bagikan
Angga Yudha Pratama
Berita Terkait
Ketegangan Dengan AS Meningkat, Iran Klaim Kendalikan Penuh Selat Hormuz
AS Mengancam dengan Kapal Induk, Iran tak Mau Kalah Peringatkan Aksi Balasan jika 'Negeri Paman Sam' Menyerang
Kapal Induk AS USS Abraham Lincoln Standby di Timur Tengah, Siapkan Serangan ke Iran jika Diminta
Kapal Induk AS Tiba di Timur Tengah, Dikirim untuk Berjaga-Jaga
Iran Mengaku Lebih Siap Hadapi Serangan AS
Israel Belum Siap Serangan Balasan, Trump Batalkan Serangan ke Iran
Negara-Negara Eropa Perintahkan Warganya Secepatnya Tinggalkan Iran
Ancaman Invasi AS dan Kerusuhan Iran, DPR Soroti Keselamatan WNI
Ancaman Invasi AS ke Iran, Pemerintah RI Keluarkan Imbauan untuk WNI
Korban Tewas di Iran Bertambah Jadi 2.500, Jumlah Terbesar dalam Beberapa Dekade Terakhir