Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Hypervigilance Membuat Kualitas Hidup Menurun, Bagaimana Mengatasinya?

Frengky AruanFrengky Aruan - Jumat, 26 Juli 2024
Hypervigilance Membuat Kualitas Hidup Menurun, Bagaimana Mengatasinya?

Ilustrasi Hypervigilance. (Foto: Pexel/ Andrea Piacquadio)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Sangat ketakutan pada hal apa pun, sensitif dengan lingkungan sekitar jadi tanda seseorang mengalami Hypervigilance.

Dilansir dari laman Healthline disebutkan bahwa Hypervigilance adalah keadaan kewaspadaan yang meningkat.

Seseorang dalam mode waspada yang berlebihan akan menjadi sangat sensitif terhadap lingkungan sekitar.

Kondisi Hypervigilance ini bisa mengarah pada gejala gangguan stres pasca trauma (PTSD), gangguan kecemasan, skizofrenia.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang menderita Hypervigilance ini menurunkan kualitas hidupnya. Dimana mempengaruhi cara seseorang berinteraksi dan memandang orang lain, atau dapat memicu paranoia.

Baca juga:

Thantophobia, Ketakutan Ditinggal Orang Tersayang

Ia akan jadi sangat berkeringat, detak jantung yang cepat, pernapasan cepat dan dangkal, seiring waktu, kewaspadaan yang terus-menerus ini dapat menyebabkan kelelahan dan kelelahan.

Seorang dengan gangguan Hypervigilance juga perubahan dari sisi perilaku, di mana bereaksi berlebihan jika mendengar suara keras, selain itu sering salah paham ketika teman atau siapapun yang berkata lalu maksudnya dianggap menyampaikan suatu pernyataan yang tidak sopan.

Dampak Hypervigilance pada perubahan emosional misalnya terjadinya peningkatan kecemasan yang parah, takut, panik, kekhawatiran yang bisa menjadi terus-menerus.

Seseorang dengan Hypervigilance juga menjadi menarik diri secara emosional. Namun dalam kondisi tertentu ia mengalami perubahan suasana hati atau ledakan emosi.

Guna mengatasi persoalan ini, seorang penderita harus melewati proses terapi PTSD. Ada beberapa cara untuk mengatasi kecemasan ekstrem atau perasaan terlalu waspada pada saat ini dan sehari-hari.

Baca juga:

Mengenal Androphobia, Ketakutan Berlebih Terhadap Laki-Laki

Para ahli merekomendasikan dengan banyak istirahat di mana mencoba yoga atau peregangan lembut, dengarkan musik yang ceria, atau bermeditasi.

Berolahraga, dengan - gerakan membantu kesehatan fisik dan mental, pengaturan nafas yang baik, dan berbicara dengan orang yang dipercaya untuk menyampaikan perasaan. (Tka)

#Hypervigilance #Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Selama ini, kesehatan mental masih belum ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam sistem membangun kesehatan daera
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
ShowBiz
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Yacko merilis 'Unbreakable Me', anthem tentang pemulihan kesehatan mental perempuan. Lagu ini juga jadi bagian kampanye di Sydney Marathon 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 29 April 2026
Yacko Rilis 'Unbreakable Me', Jadi Anthem Perempuan Bangkit dan Lawan Trauma
Lifestyle
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Psikiater mengungkap stigma dan ejekan saat menstruasi bisa memicu tekanan mental. Perempuan didorong berani membela diri dan memahami kondisi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Jangan Dianggap Sepele, Stigma Menstruasi Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Lifestyle
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
PMDD adalah gangguan menjelang haid yang lebih berat dari PMS. Psikiater ingatkan gejalanya bisa picu depresi hingga butuh penanganan serius.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Bukan Sekadar PMS, PMDD Bisa Berdampak Serius hingga Picu Depresi Berat
Indonesia
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Menurut pihak Kemenkes, baliho itu berpotensi memicu peniruan tindakan bunuh diri, terutama di tengah tren kenaikan signifikan angka kematian di Indonesia.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Kemenkes Kritik Film ‘Aku Harus Mati’, Khawatirkan Perilaku Meniru
Indonesia
Promosi Film Horor "Aku Harus Mati" Dinilai Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Mental Anak dan Remaja P
Sekitar 10 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Pada remaja dengan kerentanan psikologis seperti mereka, baliho film semacam "Aku Harus Mati" bisa memunculkan gagasan yang membahayakan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 April 2026
Promosi Film Horor
Indonesia
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas,
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 09 Maret 2026
Hasil CKG, Ratusan Ribu Anak Diketahui Alami Cemas dan Depresi
Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Bagikan