MerahPutih.com - Anggota Komisi III DPR RI Habib Aboe Bakar Al-Habsyi memenuhi panggilan Mahkamah Kehormatan Dewan DPR RI (MKD) pada Selasa (14/4). Ia diperiksa terkait pernyataannya yang menyinggung ulama dan pesantren di Madura dalam pusaran narkotika.
Usai pemeriksaan, Aboe menyampaikan permintaan maaf kepada para ulama dan masyarakat Madura atas polemik yang timbul akibat ucapannya dalam rapat kerja bersama Badan Narkotika Nasional (BNN).
“Hari ini saya dipanggil MKD memberikan keterangan terkait potongan video pernyataan saya dalam rapat kerja bersama BNN yang kemudian menimbulkan polemik,” kata Aboe di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Ia secara khusus meminta maaf kepada masyarakat di empat kabupaten di Madura, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
“Saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Madura yang mungkin merasa tersinggung atas pernyataan saya,” ujarnya.
Baca juga:
BNN Diminta Segera Sikat Habis Pengedar Tramadol di Desa, Rehabilitasi Narkoba Jangan Cuma Wacana
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menegaskan tidak pernah memiliki niat menghina ataupun menyudutkan ulama dan pesantren di Madura.
“Saya tegaskan tidak ada niat sedikit pun untuk menghina atau mendiskreditkan para ulama. Itu guru-guru yang saya cintai dan hormati,” ucapnya.
Menurut Aboe, pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks keprihatinannya terhadap maraknya penyebaran narkoba di masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa maksud dari pernyataannya adalah mengingatkan BNN agar meningkatkan pengawasan sehingga narkoba tidak masuk ke lingkungan pesantren maupun lembaga pendidikan keagamaan.
Namun, ia mengakui cara penyampaiannya kurang tepat hingga menimbulkan berbagai tafsir di tengah masyarakat.
“Pernyataan saya ini enggak tepat sehingga menimbulkan multitafsir,” katanya.
Aboe juga menyebut telah mendatangi sejumlah tokoh yang merasa kecewa dan akan terus berupaya menjalin komunikasi dengan berbagai pihak.
Ia menegaskan bahwa ulama dan pesantren merupakan pilar utama dalam menjaga moral bangsa serta memiliki peran penting dalam pemberantasan narkoba.
“Peran ulama sangat strategis sebagai garda terdepan dalam edukasi dan pencegahan narkoba,” katanya.
Selain itu, Aboe mengaku telah menyampaikan permintaan maaf kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan terkait pernyataannya mengenai persoalan narkoba di lembaga pemasyarakatan.
Menurutnya, kejadian ini menjadi pelajaran penting agar dirinya lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik sebagai anggota DPR. (Pon)

