Dinilai Belum Optimal, Indonesia Harus Tingkatkan Ketersediaan Obat Inovatif

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Jumat, 23 Desember 2022
Dinilai Belum Optimal, Indonesia Harus Tingkatkan Ketersediaan Obat Inovatif

Industri obat-obatan di Indonesia dinilai belum sepenuhnya efektif dan inovatif. (Foto: Pexels/Pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

2022 akan berakhir dalam hitungan hari. Artinya sudah satu dekade berlalu sejak tahun 2012 silam. Namun, selama periode itu, Indonesia dinilai belum efektif menghasilkan banyak inovasi dalam bidang kesehatan. Terutama untuk obat-obatan dan pelayanannya.

Hal ini disampaikan melalu data dan rilis yang diungkapkan oleh International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) pada Desember 2022. Di kawasan ASEAN, Indonesia menduduki peringkat terakhir dalam urusan inovasi obat-obatan. Selama sembilan tahun (2012 sampai 2021), baru ada 9 persen jenis obat yang diluncurkan kepada masyarakat.

“Laporan tersebut menyoroti bahwa hanya sekitar 1 dari 10 obat baru yang diluncurkan secara global tersedia untuk pasien Indonesia,” ungkap Ait-Allah Mejri selaku Ketua IPMG.

Padahal menurutnya, akses obat-obatan yang tepat waktu itu dapat menyelamatkan hidup pasien, meningkatkan kualitas kesehatan, membantu mengurangi biaya perawatan kesehatan, dan berkontribusi pada produktivitas ekonomi.

Baca juga:

Baxdrostat Diujicobakan untuk Obat Penurun Darah Tinggi

Selain itu, bidang kesehatan dan obat-obatan yang mumpuni juga dapat membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang menarik investasi di masa depan.

Dalam penelitian IPMG, Indonesia dinilai sebagai negara yang memiliki kesempatan emas sebenarnya. Negara kepulauan ini bisa membuat fasilitas kesehatan nasional yang lebih baik dengan meningkatkan investasi serta anggaran pada obat-obat preventif dan layanan kesehatan primer.

Dinilai Belum Optimal, Indonesia Harus Tingkatkan Ketersediaan Obat Inovatif
Fasilitas kesehatan di Indonesia saat ini sebenarnya sudah jauh lebih maju dengan adanya JKN. (Foto: Pexels/Chokniti Khongchum)

Sebenarnya Indonesia sudah cukup baik dalam menyediakan berbagai fasilitas kesehatan selama 10 tahun belakangan. Kemajuan signifikan ini terlihat dari hampir 90 persen masyarakat Indonesia kini telah mendapat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jaminan ini telah mulai diberikan pada masyarakat sejak 2014 silam. Walaupun memang dari segi obat-obatan, belum banyak yang mampu diadopsi untuk proses pengobatan.

“Akar permasalahan ini bersifat multi-faktorial dan hanya bisa diatasi melalui kerja sama antar sektor (ekonomi),” ungkap Nora T. Siagian selaku Board Member of IPMG.

Permasalahan ini tak hanya datang dari sisi kesehatan, tetapi juga sisi kebijakan pemerintah. Misalnya kebijakan akses masuk obat-obatan ke pasar Indonesia dan peraturan yang mengatur pendaftaran obat di JKN. Strategi pembiayaan dan anggaran terkait kesehatan juga perlu diperhatikan supaya tiap obat bisa menyasar ke pasar yang tepat.

Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH mengatakan bahwa salah satu cara untuk membuat sistem kesehatan yang efektif adalah dengan memberikan insentif finansial yang sesuai. Hal ini bertujuan agar seluruh penduduk bisa menikmati obat-obat inovatif. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kualitas hidup bangsa.

Baca juga:

Obat dari Magic Mushroom dapat Mengatasi Depresi Parah

Dinilai Belum Optimal, Indonesia Harus Tingkatkan Ketersediaan Obat Inovatif
Obat-obatan di Indonesia harusnya diberikan dan didistribusikan ke golongan masyarakat yang tepat. (Foto: Pexels/Pixabay)

Lebih jauh, Dr. Rosa C. Ginting memberitahu bahwa cara lain untuk menciptakan pengeluaran anggaran yang efektif adalah dengan produk top-up health insurance.

Produk ini berfokus pada kebutuhan layanan kesehatan untuk golongan masyarakat kelas menengah-atas. Hal ini termasuk dengan jenis obat-obatan, kualitas dan kuantitas obat, pemilihan dokter, serta perawatan rumah sakit.

Lebih lanjut, IPMG mendukung pembuatan kebijakan untuk memastikan agar tiap pasien mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. (mcl)

Baca juga:

4 Obat untuk Mengatasi Nyeri Otot

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
PAM Jaya Perkuat K3, Siapkan Pembangunan 7.000 Km Jaringan Pipa
PAM Jaya kini memperkuat K3 dalam implementasinya. PAM Jaya juga telah menyiapkan pembangunan 7.000 km jaringan pipa.
Soffi Amira - Senin, 10 Agustus 2026
PAM Jaya Perkuat K3, Siapkan Pembangunan 7.000 Km Jaringan Pipa
Lifestyle
Kopi Menu Andalan Temani Gaya Hidup Sehat
Kopi menjadi pilihan utama masyarakat yang ingin tetap produktif sekaligus menjaga kesehatan.
Dwi Astarini - Selasa, 04 Agustus 2026
Kopi Menu Andalan Temani Gaya Hidup Sehat
Indonesia
6 Dokter Intership Meninggal, DPR Minta Evaluasi Total
Langkah darurat ini dinilai sebagai keputusan krusial untuk mencegah berulangnya tragedi serta melindungi keselamatan jiwa dokter maupun pasien.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
6 Dokter Intership Meninggal, DPR Minta Evaluasi Total
Indonesia
Kemenkes Kampanyekan Jangan Takut Stigma Negatif Tes HIV, Makin Cepat Diketahui Lebih Baik
Kemenkes dorong masyarakat lakukan tes HIV tanpa takut stigma negatif. Deteksi dini penting untuk menekan penularan dan memastikan pengobatan segera dengan terapi ARV.
Wisnu Cipto - Minggu, 26 Juli 2026
Kemenkes Kampanyekan Jangan Takut Stigma Negatif Tes HIV, Makin Cepat Diketahui Lebih Baik
Indonesia
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan 40,8% Anak Punya Gigi Berlubang
Pemeriksaan sejak 1 Januari hingga 14 Juli 2026, karies gigi atau gigi berlubang menjadi keluhan terbanyak, disusul anemia pada remaja putri dan hipertensi.
Dwi Astarini - Kamis, 23 Juli 2026
Cek Kesehatan Gratis di Sekolah Temukan 40,8% Anak Punya Gigi Berlubang
Indonesia
Kemenkes Rampungkan Pembangunan 20 Rumah Sakit di Seluruh Indonesia
Kemenkes juga tidak hanya membantu pembangunan infrastruktur seperti gedung, tetapi fasilitas Kesehatan juga perlu untuk dibantu.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 07 Juli 2026
Kemenkes Rampungkan Pembangunan 20 Rumah Sakit di Seluruh Indonesia
Lifestyle
Ramalan Shio 7 Juli 2026: Ada yang Diprediksi Terancam Keuangannya
Ramalan shio besok, 7 Juli, mengulas prediksi karier, asmara, dan keuangan untuk 12 shio. Simak lima shio yang diprediksi perlu lebih waspada dalam mengelola keuangan
ImanK - Senin, 06 Juli 2026
Ramalan Shio 7 Juli 2026: Ada yang Diprediksi Terancam Keuangannya
Indonesia
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Selama ini, kesehatan mental masih belum ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam sistem membangun kesehatan daera
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 02 Juli 2026
Makin Banyak Warga Jakarta Cek Kesehatan Jiwa, Kesehatan Mental Jadi Penting
Fun
ASICS Get The Glow Ajak Aktif Bergerak untuk Pikiran Lebih Positif dan Bersinar Alami
Riset ASICS menunjukkan bahwa hanya dengan 15 menit 9 detik aktivitas fisik, suasana hati dapat mulai meningkat secara signifikan.
Dwi Astarini - Selasa, 30 Juni 2026
ASICS Get The Glow Ajak Aktif Bergerak untuk Pikiran Lebih Positif dan Bersinar Alami
Indonesia
Cakupan Imunisasi Daerah 3T Anjlok, Legislator Desak Kemenkes Jemput Bola
Pemerintah tidak bisa lagi menggunakan pendekatan seragam yang menyamakan wilayah perkotaan dengan daerah terpencil dalam urusan pelayanan kesehatan dasar.
Dwi Astarini - Selasa, 23 Juni 2026
Cakupan Imunisasi Daerah 3T Anjlok, Legislator Desak Kemenkes Jemput Bola
Bagikan