2022 akan berakhir dalam hitungan hari. Artinya sudah satu dekade berlalu sejak tahun 2012 silam. Namun, selama periode itu, Indonesia dinilai belum efektif menghasilkan banyak inovasi dalam bidang kesehatan. Terutama untuk obat-obatan dan pelayanannya.
Hal ini disampaikan melalu data dan rilis yang diungkapkan oleh International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) pada Desember 2022. Di kawasan ASEAN, Indonesia menduduki peringkat terakhir dalam urusan inovasi obat-obatan. Selama sembilan tahun (2012 sampai 2021), baru ada 9 persen jenis obat yang diluncurkan kepada masyarakat.
“Laporan tersebut menyoroti bahwa hanya sekitar 1 dari 10 obat baru yang diluncurkan secara global tersedia untuk pasien Indonesia,” ungkap Ait-Allah Mejri selaku Ketua IPMG.
Padahal menurutnya, akses obat-obatan yang tepat waktu itu dapat menyelamatkan hidup pasien, meningkatkan kualitas kesehatan, membantu mengurangi biaya perawatan kesehatan, dan berkontribusi pada produktivitas ekonomi.
Baca juga:
Selain itu, bidang kesehatan dan obat-obatan yang mumpuni juga dapat membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang menarik investasi di masa depan.
Dalam penelitian IPMG, Indonesia dinilai sebagai negara yang memiliki kesempatan emas sebenarnya. Negara kepulauan ini bisa membuat fasilitas kesehatan nasional yang lebih baik dengan meningkatkan investasi serta anggaran pada obat-obat preventif dan layanan kesehatan primer.
Sebenarnya Indonesia sudah cukup baik dalam menyediakan berbagai fasilitas kesehatan selama 10 tahun belakangan. Kemajuan signifikan ini terlihat dari hampir 90 persen masyarakat Indonesia kini telah mendapat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jaminan ini telah mulai diberikan pada masyarakat sejak 2014 silam. Walaupun memang dari segi obat-obatan, belum banyak yang mampu diadopsi untuk proses pengobatan.
“Akar permasalahan ini bersifat multi-faktorial dan hanya bisa diatasi melalui kerja sama antar sektor (ekonomi),” ungkap Nora T. Siagian selaku Board Member of IPMG.
Permasalahan ini tak hanya datang dari sisi kesehatan, tetapi juga sisi kebijakan pemerintah. Misalnya kebijakan akses masuk obat-obatan ke pasar Indonesia dan peraturan yang mengatur pendaftaran obat di JKN. Strategi pembiayaan dan anggaran terkait kesehatan juga perlu diperhatikan supaya tiap obat bisa menyasar ke pasar yang tepat.
Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH mengatakan bahwa salah satu cara untuk membuat sistem kesehatan yang efektif adalah dengan memberikan insentif finansial yang sesuai. Hal ini bertujuan agar seluruh penduduk bisa menikmati obat-obat inovatif. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kualitas hidup bangsa.
Baca juga:
Lebih jauh, Dr. Rosa C. Ginting memberitahu bahwa cara lain untuk menciptakan pengeluaran anggaran yang efektif adalah dengan produk top-up health insurance.
Produk ini berfokus pada kebutuhan layanan kesehatan untuk golongan masyarakat kelas menengah-atas. Hal ini termasuk dengan jenis obat-obatan, kualitas dan kuantitas obat, pemilihan dokter, serta perawatan rumah sakit.
Lebih lanjut, IPMG mendukung pembuatan kebijakan untuk memastikan agar tiap pasien mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. (mcl)
Baca juga: