MerahPutih Pendidikan- Ketua RT 01/RW 08, Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur, Herti memastikan tidak ada proses kristenisasi yang diajarkan pendeta Magyolin Carolina Tausuun di Komunitas Anak Sabtu Ceria (KASC) ini. Sebab, sudah ada kesepakatan antara dirinya, Ustadz Harun, dan Pendeta Magyolin untuk tidak memasukkan mata pelajaran dalam komunitas yang kini beranggota 35 anak tersebut.
"Itu sudah kesepakatan antara saya, ust Harun dan pendeta. Kita tidak memasukan mata pelajaran agama," kata Neng Herti, demikian nama panggilan untuknya saat ditemui merahputih.com di rumahnya, Jakarta Timur, Sabtu (21/2).
Untuk meyakinkan tidak ada proses kristenisasi, Herti mengajak merahputih.com mendatangi Musala Al-Mukhlisin, rumah anggota komunitas bernama Halimatun Zakia (12) dan seorang pendidik bernama Dina Tuasuun. Kepada merahputih.com, cerita mereka tidak jauh berbeda tentang mata pelajaran yang diajarkan kepada Komunitas Anak Sabtu Ceria (KASC) ini.
"Pelajarannya mewarnai, bernyanyi bersama. Cerita-cerita dan dongeng. Kami netral tidak ada bau-bau agama yang diajarkan. Dan kesepakatannya tidak ada unsur agama yang diajarkan,"" katanya.
Menurut dia, pembentukan komunitas ini sudah berjalan dua setengah tahun. Tepatnya 2013 silam. Menurutnya, warganya cukup menyambut positif dengan adanya komunitas anak ini. Sebab, selain bisa memperluas wawasan anak, mereka juga menganggap bahwa komunitas anak ini bisa membangun mental kepada anak. (Baca: Cucu Ustadz Harun Dididik Seorang Pendeta)
"Ibu-ibu anak-anak ikut ke Musala. Anak mereka diawasi meski tidak ada mata pelajaran agama. Ibu-ibu dan anak-anak pada senang," pungkas istri M. Rifaie yang sudah empat periode menjabat sebagai Ketua RT 01 ini.
Ia mengaku bahwa komunitas anak ini belum pernah mendapat perhatian khusus dari pemerintah DKI, Jakarta. Padahal, untuk melestarikan dan mengembangkan komunitas ini membutuhkan fasilitas. Kendati belum ada dana, komunitas anak ini masih ditempatkan di Musala. Ukuran Musala sendiri hanya delapan meter, yang tentu tidak cukup untuk menampung 35 anak.
"Kita ingin mengembangkan. Di sana kan ada kali. Kalau bisa di atas kali itu perlu dibangun balai dan nanti bisa dijadikan tempat anak-anak untuk belajar. Lebar kali itu sekitar empat meteran dan panjangnya bisa 10 meter," katanya. (hur)