6 Cara Mengenalkan Duka pada Anak Kecil

Frengky AruanFrengky Aruan - Selasa, 23 Juli 2024
6 Cara Mengenalkan Duka pada Anak Kecil

Ilustrasi anak. (Foto: Pexel/ Alexander Grey)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Perasaan duka merupakan bentuk emosi yang dirasakan oleh semua manusia tidak terbatas gender atau usia. Namun secara khusus untuk kasus mengenalkan bentuk duka kepada anak kecil juga perlu dilakukan dengan baik.

Duka yang dialami oleh anak jika tidak tersalurkan dengan tepat justru dapat berdampak buruk bagi perkembangan emosionalnya di masa depan.

Dilansir dari The Gottman Institute disebutkan bahwa anak yang mengalami duka seperti misalnya kehilangan sosok yang disayanginya, akan menunjukkan bentuk kedukaannya dengan kemunduran dari perilakunya yang sebetulnya sudah jauh berkembang pesat.

Bentuk perilaku itu biasanya terakumulasi dalam bentuk tantrum, tidak banyak bicara, kembali mengompol dan berbicara dengan bahasa bayi.

Baca juga:

Pentingnya Lagu Anak-Anak untuk Tumbuh Kembangnya, Waspadai Nyanyian Berbahasa Asing

Orang dewasa sekitarnya tidak boleh abai dengan kondisi psikologis yang ditunjukan anak ketika dihadapkan dengan duka. Sebab tak jarang, orang dewasa melihat duka bagi anak kecil bukan sebuah persoalan besar, faktornya hanya dilihat sebatas anak kecil dapat dengan mudah berganti suasana hatinya.

Supaya tidak salah kaprah dan tidak salah langkah, berikut ini ada 4 cara mengenalkan duka dan bagaimana menyikapinya bagi anak:

1. Jelaskan duka dengan bahasa anak

Hal paling utama untuk membantu anak yang baru saja kehilangan orang terdekat adalah dengan memberi pemahaman tentang kematian sesuai usianya. Gunakanlah bahasa yang dimengerti anak, tidak perlu menggunakan istilah halus ketika membahas kematian.

Hal ini dilakukan guna memberikan pengantar kepada anak, bahwa duka tentang kehilangan orang yang disayang adalah kenyataan. Jelaskan kemungkinan yang bakal terjadi usai ditinggalkan orang yang disayang dengan baik dan contoh yang konkrit, sehingga anak tidak kesulitan mencerna informasi soal apa yang sedang dihadapinya saaat ini dan hal apa yang akan dihadapinya setelah ini.

2. Sebaiknya jangan gunakan eufemisme saat membahas kematian.

Terkadang orang tua cenderung menggunakan kata atau istilah penghalus ketika bicara soal duka alias kematian. Padahal kematian adalah suatu hal yang pasti yang bakal dihadapi oleh semua orang.

Baca juga:

Diabetes pada Anak, Kenali Tanda Awal Gejalanya

Misalnya, menggambarkan kondisi orang yang meninggal dengan kata tidur. Jadi ketika anak mendapati orang yang disayanginya tidur itu akan menjadi satu hal yang paling menakutkan.

Tak hanya itu, menggunakan bahasa eufemisme membuat anak bisa merasa dibohongi, sebab ekspektasi-ekspektasinya terhadap orang yang diayanginya akan kembali.

Misalnya anak yang kehilangan bapaknya. Ketika bapaknya hendak dikuburkan justru orang dewasa sekitarnya menyebut sang ayah pergi sebentar. Padahal itu bagian dari menipu.

3. Bantu mengekspresikan kesedihan

Biasanya ketika anak dihadapkan kondisi kehilangan bisa menjadi lebih banyak diam, atau biasa saja atau mulai aktif bertanya-tanya soal orang yang disayangnya beberapa hari setelah duka.

Jika anak tidak bisa mengekspresikan kesedihannya itu dapat dimulai dengan membantu adalah dengan menggambar, membuat lembar memo, melihat album foto, atau bercerita.

4. Ajak ke Pemakaman

Menghadiri pemakaman memang dapat membantu memberikan closure, namun beberapa anak belum siap untuk pengalaman yang intens seperti itu. Maka dari itu, jangan pernah memaksa anak untuk menghadiri pemakaman.

Supaya momentumnya membawa anak ke pemakaman tidak mengejutkan si anak makanya orang tuanya harus berulang kali menyebutkan apa itu tempat pemakaman, mengapa orang meninggal berakhir di sana dan bagaimana prosesnya. Sampaikan dengan pelan-pelan.

Baca juga:

Batasi Makanan Ultra Proses pada Anak

Hal ini dilakukan untuk mengenalkan soal ke pemakaman. Sebutkan bahwa mengunjungi ke makam adalah peristiwa yang sangat menyedihkan, sehingga beberapa orang mungkin akan menangis di sana.

5. Bahas tentang kehidupan setelah kematian

Terkait poin ini tampaknya bakal lebih sensitif. Setiap orang tua punya pendekatan yang berbeda-beda. Namun biasanya pendekatan tersebut berangkat dari keyakinan iman dan kepercayaan.

Pemahaman tentang kehidupan setelah kematian bisa membantu anak yang sedang berduka. Selain membahas tentang akhirat, juga dapat menghibur anak dengan gagasan bahwa seseorang terus hidup dalam hati dan pikiran orang lain. (Tka)

#Pendidikan Anak #Anak
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Lainnya
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Usus buntu bisa mengakibatkan kematian. Jangan anggap semua sakit perut anak sebagai keluhan biasa.
Wisnu Cipto - Selasa, 01 September 2026
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Berita Foto
Jaring Bibit Padel Muda Lewat Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026
Sejumlah anak mengikuti pertandingan padel dalam ajang Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026 di Tangerang, Banten, Sabtu (29/8/2026).
Didik Setiawan - Sabtu, 29 Agustus 2026
Jaring Bibit Padel Muda Lewat Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026
Indonesia
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Survei Forum Anak di Jawa Tengah terhadap lebih dari 20 ribu anak menunjukkan 80 persen lebih nyaman curhat kepada teman dibanding orang tua.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 24 Agustus 2026
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Foto Essay
Peluh dan Semangat Anak Menteng Berlatih Tinju Melawan Keterbatasan
Gio dan Hamzah berlatih tinju dengan alat seadanya di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 19 Agustus 2026
Peluh dan Semangat Anak Menteng Berlatih Tinju Melawan Keterbatasan
Indonesia
Ramai Bincang Anak Jadi Bintang Vape di Media Sosial, DPR Desak Polisi Bertindak
Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Jangan pernah menjadikan anak sebagai alat untuk memperoleh keuntungan ekonomi
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 03 Agustus 2026
Ramai Bincang Anak Jadi Bintang Vape di Media Sosial, DPR Desak Polisi Bertindak
Indonesia
KPAI Soroti Dugaan Anak Dijadikan Promosi Vape, Minta Penegak Hukum Bertindak
KPAI menyoroti dugaan keterlibatan anak dalam promosi vape di YouTube dan meminta aparat penegak hukum segera melakukan penyelidikan.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 03 Agustus 2026
KPAI Soroti Dugaan Anak Dijadikan Promosi Vape, Minta Penegak Hukum Bertindak
Fun
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain menghadirkan pengalaman edukatif imersif yang mengajak orang tua memahami perkembangan anak.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 25 Juli 2026
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
Lifestyle
Festival Pahlawan Anak 2026 Digelar di Jakarta, Angkat Isu Kekerasan hingga Stunting
Save the Children menggelar Festival Anak Pahlawan pada 13-16 Agustus 2026. Acara ini mengajak masyarakat mewujudkan lingkungan aman.
Soffi Amira - Jumat, 17 Juli 2026
Festival Pahlawan Anak 2026 Digelar di Jakarta, Angkat Isu Kekerasan hingga Stunting
Indonesia
Ancol Gratiskan Tiket Unit Rekreasi Saat Hari Anak, Tapi Ada Kuota
Pemberian tiket gratis hanhya bagi anak-anak untuk menikmati pengalaman rekreasi wisata edukatif dan hiburan dalam memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 16 Juli 2026
Ancol Gratiskan Tiket Unit Rekreasi Saat Hari Anak, Tapi Ada Kuota
Bagikan