Analis Intelijen: Isu ISIS Skenario Golkan RUU Kamnas

Fredy WansyahFredy Wansyah - Kamis, 26 Maret 2015
Analis Intelijen: Isu ISIS Skenario Golkan RUU Kamnas

Sejumlah anggota Brimob Polda Jatim bersenjata lengkap melakukan penjagaan saat rumah milik terduga anggota ISIS berinisial HM di Malang, Jawa Timur, Kamis (26/3). (Foto: Antara/Hayu Yuhda)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Nasional - Sudah hampir sebulan lebih wacana gerakan radikal Islamic State of Irad and Syiria (ISIS) menjadi topik hangat perbincangan di Tanah Air. Fenomena soal gerakan radikal ISIS semakin santer dibicarakan saat 16 Warga Negara Indonesia (WNI) hilang di Turki. Otoritas keamanan menduga kuat belasan WNI yang hilang di Turki berniat gabung dengan gerakan Islam radikal ISIS.

Bukan hanya itu, Aparat Densus 88 Antiteror juga telah melakukan penangkapan terhadap terduga orang-orang yang dinilai memiliki jaringan gerakan radikal ISIS. Satuan elite Polri itu tercatat beberapa kali melakukan penangkapan di kawasan Setu, Tangerang Selatan, Banten dan di Malang, Jawa Timur. (BacaAnalis Pertahanan: Intelijen Berperan Besar Ciptakan Isu ISIS)

Di sisi lain, Panglima TNI, Jenderal Moeldoko juga mengirimkan ribuan personel pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Pasukan Pemukul Rekasi Cepat (PPRC) ke Poso, Sulawesi Tengah. Ribuan prajurit tersebut akan mengikuti latihan gabungan dengan simulasi merebut Poso kembali dari cengkraman gerakan kelompok radikal. Poso ditengarai sebagai basis gerakan kelompok radikal.

Lantas apakah betul ISIS sudah menjadi gerakan massif yang mengancam kedaulatan NKRI?

Bukan perkara mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dibutuhkan kajian mendalam dan komprehensif untuk menjawab pertanyaan di atas.
Analis pertahanan Universitas Paramadina, Jerry Indrawan Gihartono, menilai, sejauh ini ISIS belum menjadi ancaman serius untuk merongrong kedaulatan NKRI. (Baca: Punya Tato Bertulis ISIS di Bibir, Pria Asal New York Dipecat

Dikatakan belum serius karena perkembangan ISIS di Tanah Air juga belum dalam skala massif. "Belum, ISIS belum jadi ancaman serius," katanya saat berbincang dengan Merahputih.com, Jakarta, Kamis (26/3).

Alumnus Universitas Pertahanan (Unhan) itu melanjutkan, persoalan ISIS tidak murni karena isu radikalisme keagamaan saja. Dalam konteks Islam di Tanah Air dikenal dengan Islam toleran, berbeda dengan Islam yang berkembang di Timur-Tengah, dimana perbedaan Sunni dan Syiah kerap berujung pada terjadinya bentrokan yang berujung pada kerusuhan dan kematian.

Karena itu, Jerry menilai berkembangnya isu ISIS di Tanah Air disusupi oleh kepentingan politik. Baik politik yang berdimensi jangka pendek maupun kepentingan politik jangka panjang. "Saya curiga isu ISIS sengaja dibesar-besarkan oleh intelijen," sambung Jerry.

Kepentingan politik jangka pendek, lanjut Jerry, adalah menutupi kasus-kasus politik yang sedang hangat di rezim pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sebut saja kasus dinamika perseteruan partai politik, pengajuan hak angket kepada Menteri Hukum dan HAM, melemahnya nilai tukar rupiah dan wacana penggulingan Presiden Joko Widodo di tengah jalan.

Kemudian untuk kepentingan politik jangka panjang adalah digolkannya Rencana Undang-Undang (RUU) Keamanan Nasional (Kamnas) yang dahulu sempat mangkrak.

Jerry menambahkan, pascareformasi TNI berkembang menjadi kekuatan militer cukup pesat. Tugas TNI juga semakin dinamis dan berkembang. Dalam keadaan damai TNI bertugas dan aktif dalam kegiatan bencana alam, kemudian menjaga tapal perbatasan negara dan juga menjaga ideologi bangsa dan negara. "Kehadiran ribuan TNI di Poso juga memberikan pesan, bahwa polisi tidak becus bekerja dalam mereduksi gerakan Islam radikal ISIS," cetus Jerry.

Bukan hanya itu, sejak awal TNI juga bersikukuh menyodorkan RUU Kamnas. RUU Kamnas sendiri pernah dibahas di DPR RI pada periode 2009-2014. RUU Kamnas batal disahkan sebagai Undang-Undang lantaran banyaknya penolakan publik atas RUU tersebut. "Karena itulah saya curiga memang ada skenario untuk kembali menghidupkan dan mengegolkan RUU Kamnas," tandas dosen Universitas Bung Karno (UBK) tersebut.

Dalam catatan redaksi, sebelumnya, RUU Kamnas di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan DPR periode 2009-2014 ditolak oleh masyarakat sipil. Soalnya, isi dari RUU Kamnas dinilai dapat menimbulkan gangguan terhadap demokrasi, bahkan mengulang kembali sejarah orde baru dengan dominasi militer. (BacaBNPT: ISIS Tidak Akan Kehabisan Dana)

Saat itu Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq menilai draft RUU Kamnas harus mencakup sektor kesehatan, cyber, media sosial serta sektor lain sebagaimana diterapkan di negara maju. Namun, jika hanya mengutamakan sektor kepolisian dan militer, bukan tidak mungkin bakal menimbulkan persoalan tarik menarik kepentingan antara TNI dan Polri. (bhd)

#Terorisme #ISIS
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Indonesia
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Presiden RI, Prabowo Subianto, meneken Perpres RAN PE. DPR pun mengapresiasi pencegahan terorisme.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Indonesia
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
untuk aspek penegakan hukum, peran Polri tetap menjadi yang utama. Sementara itu, pelibatan TNI akan disesuaikan dengan bentuk dan tingkat ancaman terorisme yang dihadapi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 10 Februari 2026
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
Indonesia
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Rencana pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme tuai kritik. SETARA Institute menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan supremasi sipil dan sistem peradilan pidana.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Januari 2026
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Indonesia
WNI Anak Terkait ISIS Dibui Hampir 8 Bulan di Yordania, Kemenlu Pastikan Kondisinya Sehat
WNI anak berinisial KL ditahan di Yordania sejak 19 Mei 2025 atas dugaan mendukung aktivitas ISIS.
Wisnu Cipto - Rabu, 14 Januari 2026
WNI Anak Terkait ISIS Dibui Hampir 8 Bulan di Yordania, Kemenlu Pastikan Kondisinya Sehat
Indonesia
WNI Anak di Yordania Diduga Dukung ISIS, Kemenlu Pantau Proses Hukum
Penangkapan KL ini dengan dugaan keterlibatan dalam aktivitas daring yang terindikasi mendukung ISIS.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 14 Januari 2026
WNI Anak di Yordania Diduga Dukung ISIS, Kemenlu Pantau Proses Hukum
Indonesia
70 Anak Terpapar Konten Kekerasan, Pemerintah Siapkan Aturan Perlindungan di Sekolah
70 anak di 19 provinsi kini terpapar konten kekerasan. Pemerintah pun akan menyiapkan aturan perlindungan di sekolah.
Soffi Amira - Kamis, 08 Januari 2026
70 Anak Terpapar Konten Kekerasan, Pemerintah Siapkan Aturan Perlindungan di Sekolah
Dunia
Polisi Sebut Terduga Penembak di Bondi Bertindak Sendiri, tanpa Pelatihan di Filipina
Polisi menyatakan ayah dan anak tersebut tidak menjalani pelatihan atau melakukan ‘persiapan logistik’ di Filipina untuk serangan pada 14 Desember.
Dwi Astarini - Selasa, 30 Desember 2025
  Polisi Sebut Terduga Penembak di Bondi Bertindak Sendiri, tanpa Pelatihan di Filipina
Bagikan