Merahputih.com - Potensi gempa megathrust Yogyakarta, Sesar Opak, mitigasi bencana DIY, dan gempa magnitudo 8,7 menjadi sorotan utama pakar kebencanaan Indonesia dalam menghadapi siklus besar alam di selatan Pulau Jawa.
Pakar kebencanaan Indonesia mendesak pemerintah dan masyarakat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa megathrust.
Berdasarkan studi para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yogyakarta kini memasuki fase 30 tahun terakhir dari siklus ulang 200 tahun yang sangat krusial.
Baca juga:
Gempar Komodo Hampir 2 Meter Makan Ternak Warga, BBKSDA Pasang Kandang Perangkap
Fase Kritis 30 Tahun Terakhir
Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Prof. Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa energi dari zona subduksi di selatan Jawa belum terlepas sepenuhnya. Hal ini menempatkan Yogyakarta pada risiko tinggi guncangan dahsyat dalam beberapa dekade mendatang.
"Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi hasil studi sains untuk mendukung kebijakan. Kita berada di ujung siklus 200 tahun yang belum rilis energinya. Potensi magnitudo bisa mencapai 8,7, sehingga kesiapsiagaan di DIY harus ditingkatkan secara serius," tegas Dwikorita dikutip Antara, Kamis (16/4).
Ketangguhan Infrastruktur dan Ancaman Sesar Opak
Mantan Kepala BMKG tersebut juga menyoroti pentingnya infrastruktur adaptif seperti Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).
Saat ini, YIA menjadi satu-satunya bandara di Asia Tenggara yang memiliki desain khusus tahan gempa magnitudo 8,7 dan tsunami setinggi 15 meter.
Bangunan ini mampu menampung sekitar 12.000 orang untuk evakuasi darurat di area mezanin dan terminal.
Selain ancaman laut, para ahli mengidentifikasi kompleksitas Sesar Opak yang memicu gempa darat 2006. Studi terbaru menunjukkan bahwa Sesar Opak merupakan sistem patahan kompleks atau blind fault yang tidak memotong permukaan namun memiliki percabangan dinamis.
Kondisi ini menuntut penataan ruang yang jauh lebih ketat guna menghindari zona dengan tingkat amplifikasi guncangan tinggi.