Pemerintah Tiongkok telah mendeportasi seorang warga negara Amerika Serikat yang terlibat aksi mata-mata.
Warga AS tersebut, Sandy Phan-Gillis, ditangkap pada Maret 2015 saat akan meninggalkan China daratan menuju Makau, wilayah Tiongkok bekas jajahan Portugis. Dia ditahan selama dua tahun tanpa proses peradilan.
Pengadilan Tiongkok pada Selasa (25/4) memerintahkan agar Sandy diusir dari negara itu setelah menghukumnya selama 3,5 tahun penjara atas aksi mata-mata.
Sandy meninggalkan Tiongkok pada Jumat (28/4) dari kota selatan Guangzhou dan tiba di Los Angeles pada hari yang sama, kata suaminya melalui pernyataan.
Pemerintah Tiongkok belum memberikan keterangan rinci menyangkut dakwaan yang dikenakan terhadap Sandy. Kuasa hukum Sandy mengatakan tidak dapat mengungkapkan rincian kasus tersebut karena menyangkut "rahasia negara."
Suami Sandy, Jeff Gillis, mengatakan China menuduh istrinya masuk ke negara itu dua kali untuk menjalankan misi spionase pada 1996 serta bekerja dengan Biro Penyelidik Federal AS untuk menangkap dua mata-mata Tiongkok di Amerika serikat dan menjadikan mereka agen ganda.
Sebelum pengusiran, hubungan Beijing dan Washington sedang menghangat setelah Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Florida, Amerika Serikat pada awal April.
Trump menyebut Xi sebagai "orang baik" dan memuji presiden China itu atas upayanya menekan Korea Utara untuk menghentikan pengembangakan senjata nuklir dan peluru kendali jarak jauh.
Seorang pejabat pada Departemen Luar Negeri AS mengatakan Deplu AS tahu soal pengusiran Sandy.
"Amerika Serikat mengucapkan selamat kembali ke tanah air (bagi Sandy)," kata pejabat yang tidak bersedia diungkapkan jati dirinya itu.
Negosiasi bagi pembebasan Sandy ditingkatkan ketika Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson melakukan kunjungan ke Beijing pada Maret, menurut yayasan yang berpusat di San Francisco, Dui Hua Foundation.
"Sandy sangat senang bisa berkumpul kembali dengan teman-teman dan keluarga, dan menyampaikan terima kasih kepada banyak orang yang tanpa kenal lelah telah membantu pembebasannya," kata Gillis.
Sumber: Reuters/ANTARA