Tiongkok Usir Warga Amerika karena Aksi Mata-mata

Luhung SaptoLuhung Sapto - Minggu, 30 April 2017
Tiongkok Usir Warga Amerika karena Aksi Mata-mata

Ilustrasi (Twitter @China)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Pemerintah Tiongkok telah mendeportasi seorang warga negara Amerika Serikat yang terlibat aksi mata-mata.

Warga AS tersebut, Sandy Phan-Gillis, ditangkap pada Maret 2015 saat akan meninggalkan China daratan menuju Makau, wilayah Tiongkok bekas jajahan Portugis. Dia ditahan selama dua tahun tanpa proses peradilan.

Pengadilan Tiongkok pada Selasa (25/4) memerintahkan agar Sandy diusir dari negara itu setelah menghukumnya selama 3,5 tahun penjara atas aksi mata-mata.

Sandy meninggalkan Tiongkok pada Jumat (28/4) dari kota selatan Guangzhou dan tiba di Los Angeles pada hari yang sama, kata suaminya melalui pernyataan.

Pemerintah Tiongkok belum memberikan keterangan rinci menyangkut dakwaan yang dikenakan terhadap Sandy. Kuasa hukum Sandy mengatakan tidak dapat mengungkapkan rincian kasus tersebut karena menyangkut "rahasia negara."

Suami Sandy, Jeff Gillis, mengatakan China menuduh istrinya masuk ke negara itu dua kali untuk menjalankan misi spionase pada 1996 serta bekerja dengan Biro Penyelidik Federal AS untuk menangkap dua mata-mata Tiongkok di Amerika serikat dan menjadikan mereka agen ganda.

Sebelum pengusiran, hubungan Beijing dan Washington sedang menghangat setelah Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Florida, Amerika Serikat pada awal April.

Trump menyebut Xi sebagai "orang baik" dan memuji presiden China itu atas upayanya menekan Korea Utara untuk menghentikan pengembangakan senjata nuklir dan peluru kendali jarak jauh.

Seorang pejabat pada Departemen Luar Negeri AS mengatakan Deplu AS tahu soal pengusiran Sandy.

"Amerika Serikat mengucapkan selamat kembali ke tanah air (bagi Sandy)," kata pejabat yang tidak bersedia diungkapkan jati dirinya itu.

Negosiasi bagi pembebasan Sandy ditingkatkan ketika Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson melakukan kunjungan ke Beijing pada Maret, menurut yayasan yang berpusat di San Francisco, Dui Hua Foundation.

"Sandy sangat senang bisa berkumpul kembali dengan teman-teman dan keluarga, dan menyampaikan terima kasih kepada banyak orang yang tanpa kenal lelah telah membantu pembebasannya," kata Gillis.

Sumber: Reuters/ANTARA

#Tiongkok #Amerika Serikat
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Luhung Sapto

Penggemar Jones, Penjelajah, suka makan dan antimasak
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Insiden Rollercoaster di Amerika Serikat, 1 Orang Tewas
Saksi mata memberi tahu media lokal bahwa mereka melihat seorang pria terlempar dari wahana tersebut.
Dwi Astarini - Selasa, 13 Oktober 2026
Insiden Rollercoaster di Amerika Serikat, 1 Orang Tewas
Dunia
USS Abraham Lincoln Tiba di San Diego, ABK Stres 265 Hari Satroni Iran Pulang Tanpa Kemenangan
Isak tangis haru berbaur rasa trauma membuncah di San Diego Bay, California, saat kapal induk raksasa Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, akhirnya resmi berlabuh
Wisnu Cipto - Sabtu, 10 Oktober 2026
USS Abraham Lincoln Tiba di San Diego, ABK Stres 265 Hari Satroni Iran Pulang Tanpa Kemenangan
Dunia
Eksekusi Tembak Mati Tentara AS Pembunuh 13 Rekannya Bakal di Siarkan Langsung
Nidal Malik Hasan divonis bersalah karena telah membunuh 13 rekannya sesama tentara AS di sebuah pangkalan militer di Texas pada 2009.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 09 Oktober 2026
Eksekusi Tembak Mati Tentara AS Pembunuh 13 Rekannya Bakal di Siarkan Langsung
Indonesia
PHK 6.000 Warga AS, Karyawan Asing di Microsoft Ditolak Jadi Residen
"Mereka juga telah melakukan PHK terhadap 6.000 pekerja Amerika dan menggantinya dengan 6.300 pekerja pemegang visa H-1B," kata Vance.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 09 Oktober 2026
PHK 6.000 Warga AS, Karyawan Asing di Microsoft Ditolak Jadi Residen
Dunia
Jangan Liburan ke New York Dulu, Gubernur Terbitkan Dekrit Darurat Campak Hingga 4 November
Gubernur New York Kathy Hochul resmi menetapkan status darurat bencana akibat ledakan wabah campak hingga 4 November 2026. Simak peringatan penting ini!
Wisnu Cipto - Selasa, 06 Oktober 2026
Jangan Liburan ke New York Dulu, Gubernur Terbitkan Dekrit Darurat Campak Hingga 4 November
Dunia
Rektor Cornell University Tegaskan Kampus Harus Berbenah setelah Kasus Pemerkosaan
Rektor Cornell University menggambarkan dugaan yang disampaikan perempuan tersebut, yang diidentifikasi sebagai Jane Doe, sebagai hal yang ‘sangat meresahkan’.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Rektor Cornell University Tegaskan Kampus Harus Berbenah setelah Kasus Pemerkosaan
Dunia
Kasus Pemerkosaan Cornell University, Rektor Dukung Pemeriksaan Eksternal
Korban mengklaim ia dicekoki ketamin, dianiaya, dan diperkosa tujuh anggota fraternity Chi Phi.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kasus Pemerkosaan Cornell University, Rektor Dukung Pemeriksaan Eksternal
Dunia
AS Siapkan Tambahan Pasukan dan Pesawat Militer ke Israel, Ada Apa?
Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah menyiapkan pengerahan tambahan pasukan dan pesawat militer ke Israel.
Yusuf Abdillah - Senin, 05 Oktober 2026
AS Siapkan Tambahan Pasukan dan Pesawat Militer ke Israel, Ada Apa?
ShowBiz
Dari Brooklyn ke Fort Dix, Sean 'Diddy' Combs Tetap Jadi 'Raja' Meski Terjerat Kasus Prostitusi
Dugaan kepemilikan zat terlarang dan obat resep ilegal kembali mencoreng reputasi Sean 'Diddy' Combs di penjara.
Wisnu Cipto - Minggu, 04 Oktober 2026
Dari Brooklyn ke Fort Dix, Sean 'Diddy' Combs Tetap Jadi 'Raja' Meski Terjerat Kasus Prostitusi
Dunia
Bersiap Kembali Lancarkan Serangan ke Iran, AS Kirim Baterai Rudal Patriot ke Arab Saudi dan Qatar
Trump mengatakan sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan udara dalam beberapa pekan mendatang.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 02 Oktober 2026
Bersiap Kembali Lancarkan Serangan ke Iran, AS Kirim Baterai Rudal Patriot ke Arab Saudi dan Qatar
Bagikan