MerahPutih.com - Indonesia menyiapkan kontrak jangka panjang impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dengan sejumlah negara untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan strategi antisipasi dilakukan agar pasokan LPG tetap aman.
"Dengan kondisi sekarang yang di Middle East (Timur Tengah), kita pecah lagi untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain. Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia. Itu untuk LPG," kata Bahlil, dikutip Antara, Selasa (17/3).
Baca juga:
Tak Cuma Minyak, Pasokan Gas LPG RI Terkena Imbas Konflik Iran-AS
Bahlil menjelaskan saat ini total impor LPG Indonesia berasal 70–75 persen dari Amerika Serikat, 20 persen dari Timur Tengah, dan sisanya dari beberapa negara lain.
Putus Pasokan dari Timteng
Menurut Bahlil, pemerintah telah memutuskan mengalihkan pasokan dari Timteng ke kawasan lain untuk memperkuat ketahanan energi. Adapun, jadwalkan sejumlah kedatangan kargo LPG berikutnya menjelang dan setelah Hari Raya Idul Fitri.
"Pemerintah selalu siaga untuk memastikan masuk lagi dua kargo pada 28 Maret, kemudian 4 April satu kargo lagi masuk, dan 8 April masuk satu kargo lagi," tandas Bahlil.
Baca juga:
Jaga Keamanan, Negara Kelompok G7 Bakal Kawal Kapal Minyak Dari Timur Tengah
Solar Nasional Aman
Terkait pasokan solar nasional, ESDM menegaskan dalam kondisi aman karena seluruh kebutuhan kini telah dapat dipenuhi produksi dalam negeri dari Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan.
Untuk minyak mentah, sekitar 20 persen impor Indonesia sebelumnya berasal dari Timteng. Pemerintah kini menyiapkan alternatif pasokan dari negara lain dengan skema kerja sama jangka panjang guna menjaga ketahanan energi nasional. (*)