Tidak Semua Orang Bisa Diterapi dengan Hipnosis
Minggu, 21 Mei 2023 -
KAMU mungkin melihat hipnosis sebagai aksi panggung murahan atau trik yang memancing tawa di acara televisi.
Namun, selama tiga dekade terakhir, ada banyak bukti yang menujukkan hipnosis atau hipnoterapi dapat menjadi pengobatan yang ampuh untuk masalah medis seperti nyeri kronis, hot flashes, dan kecemasan, dan bahkan membantu kamu menurunkan berat badan.
Hipnosis memanfaatkan kekuatan kata-kata untuk mengubah hidup, demikian dikatakan Profesor Psikologi Steven Jay Lynn, PhD dari Binghamton University di New York, AS.
“Dengan sugesti yang diberikan kepada orang yang reseptif, kamu dapat mengubah pikiran, perasaan, perilaku mereka,” ujarnya seperti diberitakan WebMD, Selasa (16/5).
Hanya mereka yang reseptif dapat menerima terapi hipnosis, jadi cara pengobatan ini bukan untuk semua orang.
Untuk mengetahui apakah kamu dapat menerima hipnoterapi, nantinya kamu tidak harus coba-coba lagi. Akan ada tes yang menggunakan sampel darah atau air liur sederhana untuk memberi tahu hasilnya.
Baca juga:
Para peneliti di Universitas Stanford baru-baru ini mengembangkan perangkat yang cukup kecil, seukuran tangan, yang dapat menganalisis DNA untuk gen yang menujukkan reseptif tidaknya kamu pada proses hipnosis. Tes ini dapat memperoleh hasil dalam hitungan menit.
Orang-orang, terutama perempuan, dengan variasi gen yang disebut catechol-o-methyltransferase (COMT), lebih mungkin merespons hipnoterapi untuk nyeri dibandingkan orang lain, demikian temuan para peneliti.
Gen tersebut membantu membuat enzim yang mengatur metabolisme dopamin di otak, sebuah proses yang berhubungan dengan perhatian.
“Hipnosis adalah keadaan perhatian yang sangat terfokus. Dan jalur dopamin yang mengatur perhatian dipengaruhi oleh COMT saat menuju ke korteks prefrontal kamu,” kata penulis studi Dana Cortade, PhD, mantan mahasiswa doktoral di Stanford.
Dalam penelitian sebelumnya, orang dengan variasi atau tingkat COMT yang berbeda menggunakan jalur otak yang berbeda ketika diminta untuk mengikuti tes.
Hal ini menunjukkan bahwa gen tersebut berhubungan dengan kemampuan perhatian, yang dapat diterjemahkan menjadi kemampuan untuk dihipnotis.
Baca juga:
Tes Stanford belum tersedia secara komersial, tetapi suatu hari nanti, penyedia layanan kesehatan dapat menggunakannya untuk menyaring pasien. Menurut Cortade, misalnya dalam menentukan "kemampuan terhipnotis", sebelum operasi untuk melihat apakah hipnosis dapat membantu mengurangi rasa sakit pasien.
Selama ini, dunia medis telah memiliki pemeriksaan formal untuk mengetahui apakah hipnosis cocok untuk kamu. Penguji mungkin mendorong untuk, katakanlah, mengangkat tangan untuk melihat bagaimana kamu menanggapi sugesti.
Atau dengan mencoba menghipnotismu dan menanyakan apa yang kamu ingat. Wawasan dinilai pada skala peringkat kemampuan hipnotis. Masalahnya, penguji terlatih sulit ditemukan, catat studi Stanford.
Sekitar 10 persen hingga 15 persen orang sangat mudah terhipnotis, sementara 15 persen hingga 20 persen harus berusaha keras untuk bisa dihipnotis. Sisanya berada di antaranya. (aru)
Baca juga:
Grafoterapi, Kurangi Stres Lewat Goresan atau Tulisan Tangan