MerahPutih.Com - Transaksi nilai tukar rupiah antarbank di Jakarta pada Rabu (15/8) pagi bergerak melemah tipis sebesar tujuh poin menjadi Rp14.608 per dolar Amerika Serikat. Sebelumnya sempat di angka Rp14.601 per dolar AS.
Melemahnya nilai tukar Rupiah menurut Reza Priyambada Analis Senior CSA Reseacrh Institue, sentimen mengenai krisis keuangan Turki masih membayangi pasar negara berkembang sehingga laju rupiah cenderung tertahan, khususnya dolar AS.
"Dampak dari krisis keuangan di Turki masih menjadi salah satu faktor yang menahan pergerakan rupiah ke area positif," kata Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (15/8).
Kendati demikian, lanjut dia, depresiasi rupiah relatif terbatas. Pernyataan pemerintah mengenai tren penguatan pertumbuhan masih dapat terus berlanjut serta menargetkan defisit transaksi berjalan dapat diturunkan secara signifikan pada akhir 2018, dapat menjadi sentimen yang menopang pergerakan rupiah.
Sementara itu, Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih sebagaimana dilansir Antara mengatakan efek negatif mata uang lira rupiah cenderung sudah mereda, sejumlah mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS sehingga bisa membantu sentimen penguatan rupiah.
"Pergerakan rupiah juga masih dalam penjagaan Bank Indonesia," katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, sentimen dari dalam negeri relatif positif. Realisasi APBN 2018 tampaknya akan lebih baik. Semester kedua ini realisasi belanja Negara akan lebih agresif dengan potensi serapan bisa mencapai 96-98 persen dari pagu.(*)
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: KPK Beberkan Kondisi Terakhir Laporan Kekayaan Petahana Jokowi