MErahputih.com - Tekanan geopolitik global dan lonjakan harga minyak dunia kembali menekan pergerakan nilai tukar uang domestik. Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Rabu sore terkikis 29 poin atau merosot 0,16 persen menuju level Rp17.888 per dolar AS.
Pergerakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut mengindikasikan dinamika serupa, bergerak datar berada pada posisi Rp17.909 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah berakar dari tingginya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat.
Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama,
ujar Ibrahim Assuaibi menjelaskan situasi pasar keuangan.
Ekskalasi Geopolitik Teluk Tekan Pasar Keuangan
Konflik militer melibatkan AS dan Iran kini resmi memasuki hari ke-11, memicu ketidakpastian tinggi pada pasar komoditas. Situasi kian memburuk akibat ancaman blokade angkatan laut oleh kelompok Houthi Yaman terhadap Arab Saudi di wilayah perairan Laut Merah. Kondisi tersebut memaksa sejumlah kapal tanker mengubah rute pelayaran, sehingga memicu potensi kenaikan biaya pengiriman serta asuransi kapal.
Berikut adalah rincian data poin indikator ekonomi serta sentimen pasar uang global:
-
Posisi Penutupan Rupiah: Melemah 29 poin (0,16 persen) menjadi Rp17.888 per dolar AS.
-
Kurs JISDOR BI: Berada stabil pada level Rp17.909 per dolar AS.
-
Probabilitas Suku Bunga The Fed Pekan Depan: Data Prime Terminal mencatat angka 78 persen untuk opsi mempertahankan suku bunga.
-
Probabilitas Kenaikan Suku Bunga September: Berada pada kisaran angka 68 persen.
-
Durasi Konflik Militer: Pertikaian bersenjata AS dan Iran memasuki hari ke-11.
Respon Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Ibrahim Assuaibi menambahkan, ancaman gangguan pada perairan penting Teluk berdampak langsung terhadap rantai pasok minyak dunia.
"Ancaman blokade ini muncul ketika lalu lintas maritim telah terganggu oleh permusuhan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global, menambah kekhawatiran bahwa gangguan berkepanjangan dapat semakin mengurangi pasokan tersedia dan meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi," kata Ibrahim menyoroti risiko inflasi.
Menanggapi tekanan eksternal ini, Bank Indonesia mengambil langkah antisipatif melalui penetapan kebijakan moneter terbaru. Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan menahan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75 persen. BI sekaligus menyesuaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5 persen.
Otoritas moneter turut memperluas instrumen insentif guna menarik aliran modal asing (capital inflow) masuk ke pasar valuta asing domestik. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa, mempercepat pendalaman pasar uang, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global.

