MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (31/8), bergerak melemah 57 poin atau 0,32 persen menjadi Rp 17.750 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.693 per dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi pidato Kepala Federal Reserve (The Fed) yang hawkish.
Warsh mengatakan bahwa The Fed 'harus bertindak lebih lanjut' jika diperlukan agar inflasi bisa bergerak turun menuju tingkat 2 persen,
ucapnyadi Jakarta, Senin (31/8).
Dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole, Warsh mengevaluasi kondisi ekonomi dan kebijakan moneter saat ini. Meskipun pasar tenaga kerja tetap stabil dan tingkat output ekonomi solid, laju inflasi masih menjadi hal yang mengkhawatirkan.
Baca juga:
Ia menekankan bahwa indikator inflasi acuan The Fed tercatat sebesar 3,7 persen selama 12 bulan terakhir. Adapun perubahan dalam periode enam bulan bahkan lebih tinggi, yakni mencapai 4,1 persen, jauh melampaui target tegas bank sentral sebesar 2 persen.
Warsh menegaskan, para pembuat kebijakan harus yakin bahwa inflasi inti benar-benar bergerak menuju target mereka dengan kecepatan yang memadai. Sentimen lainnya berasal dari eskalasi geopolitik di Asia Barat seiring serangan AS terhadap Iran.
Pasukan AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026), yang menandai serangan pertama terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli. (*)