Merahputih.com - Pergerakan nilai tukar Rupiah mencatatkan tren positif pada akhir sesi perdagangan Senin (10/8). Rupiah menguat signifikan 142 poin atau 0,79 persen menuju level Rp17.755 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya pada Rp17.897 per dolar AS.
Pergerakan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut mengonfirmasi penguatan menuju Rp17.795 per dolar AS dari level awal Rp17.913 per dolar AS.
Baca juga:
Sentimen Global Meledak! IHSG dan Indeks LQ45 Dibuka Menguat pada Perdagangan Awal Pekan Ini
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pendorong utama penguatan rupiah berasal dari kondisi Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) nasional. Kategori IKK masih berada dalam zona optimis meskipun mengalami dinamika penurunan secara berkala.
Konsumen secara umum masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, meski tingkat keyakinannya terus menurun dalam tiga bulan terakhir,
ujar Ibrahim Assuaibi dikutip Antara.
Faktor Domestik dan Pencalonan Pimpinan Bank Sentral
Laporan resmi Bank Indonesia mencatat angka IKK periode Juli 2026 berada pada posisi 116,8, menurun dari capaian 117,8 pada Juni 2026. Penurunan angka ini menjadi sinyal kehati-hatian masyarakat dalam mengalokasikan pengeluaran rumah tangga.
Kendati demikian, posisi indeks di atas angka 100 menegaskan persepsi positif masyarakat terhadap stabilitas finansial nasional.
"Dengan demikian, perkembangan IKK pada bulan-bulan berikutnya menjadi penting untuk melihat seberapa kuat daya tahan konsumsi domestik di tengah berbagai tantangan ekonomi,” tutur Ibrahim Assuaibi.

Pendorong kestilaban pasar modal juga bersumber dari langkah politik anggaran Presiden RI Prabowo Subianto. Kepala Negara mengajukan nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI definitif melalui Surat Presiden (Surpres) menuju DPR RI. Penunjukan figur berpengalaman ini memberikan kepastian arah kebijakan moneter nasional bagi para pelaku pasar.
Berikut deretan data dan indikator utama penggerak rupiah:
-
Nilai Penutupan Kurs Transaksi: Rp17.755 per dolar AS (menguat 0,79 persen).
-
Posisi Kurs JISDOR BI: Rp17.795 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.913 per dolar AS.
-
Capaian Indeks Keyakinan Konsumen: Level 116,8 pada Juli 2026 (turun dari 117,8 pada Juni 2026).
-
Peluang Kenaikan Bunga The Fed: Menurun jadi 42 persen berdasarkan CME FedWatch Tool dari sebelumnya 67 persen.
-
Proyeksi Inflasi CPI AS: Diperkirakan melandai dari 3,5 persen menuju 3,4 persen secara tahunan (year-on-year).
Dinamika Geopolitik Global dan Proyeksi Inflasi AS
Sentimen positif eksternal ikut melengkapi penguatan nilai tukar domestik lewat kabar diplomasat internasional. Isu penyelesaian ketegangan di Selat Hormuz antara Iran dan Oman memberi harapan baru pembukaan kembali jalur pelayaran logistik dunia.
Persyaratan kompensasi dari pihak Washington kepada Tehran menjadi titik krusial penuntasan kesepakatan damai.
Baca juga:
Di sisi lain, potensi tekanan inflasi Amerika Serikat terpantau mereda sehingga memicu koreksi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Pelaku pasar keuangan kini memantau rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS guna mengukur kebijakan moneter global selanjutnya. Kondisi pasar tenaga kerja AS melemah makin memperkuat keyakinan investor akan penahanan suku bunga acuan dunia.