MerahPutih.com - Pada Senin (21/9) sore, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat berada pada level Rp 17.813 per dolar AS. Level tersebut melemah sebesar 0,38 persen dibandingkan Rp 17.745 per dolar AS pada Jumat (18/9).
Bank Indonesia (BI) menyampaikan pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal.
Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,
kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangannya di Jakarta, Senin (22/9).
BI menyatakan akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya, Hal ini dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market.
Baca juga:
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Melemah Tersengat Harga Minyak dan Agresivitas The Fed
BI juga memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif. Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT),” kata Erwin.