MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10) bergerak melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp 18.021 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.938 per dolar AS.
Dari dalam negeri, terjadi gejolak di pasar saham Indonesia pada pagi ini pasca-pengumuman MSCI. MSCI mengumumkan untuk membuka konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) ke Standalone Market (pasar mandiri).
Bank Indonesia (BI) menyebut, akan terus hadir di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya seiring tekanan terhadap mata uang yang menyentuh Rp 18.000 per dolar AS di tengah sentimen risk-off (menghindari risiko) global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan BI juga memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Baca juga:
Erwin menyampaikan, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan menekan pasar keuangan domestik.
Menurutnya, pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,28 persen secara quarter-to-date (QTD).
Cadangan devisa juga tetap terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
Bank Indonesia juga menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang, serta terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya,
kata Erwin.