Merahputih.com - Kabar baik datang dari pergerakan nilai tukar rupiah hari ini yang sukses menguat tajam melibas dolar AS di angka Rp17.882 pada penutupan perdagangan Jumat (2/10).
Melesatnya kurs rupiah sebesar 84 poin (0,47 persen) dari hari sebelumnya ini langsung menjawab kekhawatiran pasar, berkat turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Baca juga:
Rupiah Kembali Dekati Rp 18.000 Per Dolar, Pengumuman Inflasi Mempengaruhi
Mengupas lebih dalam soal prediksi rupiah dan dinamika pasar, Ibrahim Assuabi selaku analis sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka menyoroti sentimen positif yang sedang terjadi.
Menurutnya, lonjakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat dipengaruhi oleh data ekonomi makro Amerika Serikat yang melandai, sehingga membuat The Fed mengerem kemungkinan pengetatan moneter lanjutan.
Data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya,
ungkap Ibrahim.
Data Inflasi AS Melandai, Rupiah Kecipratan Untung
Sentimen positif yang mendorong mata uang Garuda ini sejalan dengan rilis data dari Xinhua yang menunjukkan bahwa inflasi di Negeri Paman Sam memang sedang jinak.
Berikut adalah rincian data ekonomi AS yang menopang penguatan rupiah:
-
PCE Utama (Personal Consumption Expenditures): Hanya naik 3,4 persen secara tahunan di bulan Agustus, meleset jauh dari tebakan konsensus pasar yang mematok di level 3,7 persen.
-
PCE Inti (Tanpa pangan dan energi): Tumbuh melambat di angka 3 persen. Capaian ini lebih rendah dari ekspektasi awal sebesar 3,3 persen dan turun dari posisi bulan Juli.
-
PCE Bulanan: Hanya naik 0,2 persen, sedikit berada di bawah proyeksi pasar (0,3 persen).
Waspada Gejolak Geopolitik Timur Tengah
Meski sentimen ekonomi sedang bagus, Ibrahim mengingatkan agar pelaku pasar tidak terlalu santai merespons isu geopolitik.
Ketegangan antara AS dan Iran yang memanas jelang pemilu paruh waktu, ditambah isu rencana serangan udara, bisa memutarbalikkan keadaan kapan saja.
Baca juga:
Awas Tergelincir! Prediksi IHSG Hari Ini Uji Level Psikologis 6.000, Sentimen Inflasi Jadi Penentu
"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," tegas Ibrahim.
Terlepas dari risiko global tersebut, sentimen manis di pasar valas berhasil menular ke kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.
Tercatat pada hari yang sama, referensi kurs JISDOR ikut menguat ke level Rp17.898 per dolar AS, merangkak naik dari posisi sebelumnya di angka Rp17.937.