MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah kembali melemah setelah sempat menunjukkan penguatan sehari sebelumnya.
Pada penutupan perdagangan Selasa (11/8), rupiah turun 106 poin atau 0,60 persen ke level Rp17.861 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.755.
Baca juga:
Rupiah Mengamuk Tembus Rp17.755 Per Dolar AS, Surpres Prabowo Jadi Pemicu Utama
Tren Berbalik dari Sehari Sebelumnya
Sehari sebelumnya, rupiah sempat menguat signifikan 142 poin atau 0,79 persen ke level Rp 17.755 per dolar AS dari Rp17.897.
Namun, tren positif kenaikan rupiah itu tidak bertahan lama akibat sentimen global yang kembali menekan pasar.
Harapan Selat Hormuz Dibuka Pupus
Dilansir Antara, Selasa (11/9), Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memupus harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini, sehingga memupus harapan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz,
Ibrahim Assuaibi, analis pasar uang
Washington mengklaim jalur perairan tetap terbuka, sementara Teheran menegaskan telah menutupnya dengan ranjau dan drone.
Baca juga:
Iran Bakal Tutup Selat Hormuz Sampai Amerika Serikat Penuhi Sejumlah Syarat
Faktor Domestik: BI dan IKK
Dari sisi domestik, Ibrahim mengungkapkan tekanan rupiah sedikit tertahan langkah Presiden RI Prabowo Subianto yang menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo.
Menurut dia, penunjukan Destry ini agak meredakan kekhawatiran pasar terkait kepemimpinan moneter. Namun, lanjut dia, rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) justru menambah tekanan pasar.
“Pasar juga merespon negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun, dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026,” tandas Ibrahim. (*)