Merahputih.com - Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini kembali menelan pil pahit dengan ditutup melemah ke level Rp17.981 per dolar AS. Penurunan kurs rupiah ini secara langsung menjawab keresahan pasar terkait rencana pengetatan moneter lanjutan dari The Fed yang bikin mata uang Paman Sam makin perkasa.
Buat kamu para pelaku bisnis atau yang sering mantau pasar valas, bersiaplah karena volatilitas rupiah tampaknya masih akan membayangi sepanjang pekan.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Anjlok Mengekor Bursa Global, Benarkah Suku Bunga The Fed Jadi Biang Kerok?
Pada penutupan perdagangan Selasa, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebenarnya cuma bergeser tipis 3 poin (0,02 persen) dari posisi sebelumnya di angka Rp17.978.
Meski begitu, tekanan terhadap kurs rupiah hari ini membuktikan betapa sensitifnya pasar kita terhadap sentimen eksternal.
Hal ini makin dipertegas oleh data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang mencatat rupiah melemah ke posisi Rp17.998 per dolar AS, turun lumayan kerasa dibandingkan hari sebelumnya yang masih bertengger di Rp17.965.
Alasan Rupiah Melemah: Bayang-bayang The Fed dan Meroketnya Harga Minyak

Apa sih yang bikin mata uang Garuda susah banget buat bangkit? Menurut Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, dalang utama di balik lesunya pasar mata uang kita adalah sikap bank sentral Amerika Serikat.
Tingginya harga minyak dunia saat ini bikin para investor makin waswas dan merombak ekspektasi mereka.
Karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya tanggal 15-16 September lalu, yang merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir,
jelas Ibrahim.
Berdasarkan pantauan data CME FedWatch, saat ini ada peluang sebesar 70 persen bagi The Fed untuk kembali memanaskan mesin dan mengerek suku bunga pada pertemuan Oktober mendatang.
Peluang ini makin kuat setelah munculnya sederet pernyataan bernada hawkish (agresif) dari para petinggi The Fed pekan lalu.
Pasar Wait and See: Rentetan Agenda Ekonomi AS & Ketegangan Geopolitik
Nggak cuma nungguin statement pejabat The Fed, minggu ini pasar juga lagi deg-degan nungguin rilis agenda ekonomi AS yang super padat. Beberapa indikator penting yang bakal jadi penentu arah pergerakan dolar AS antara lain:
-
Rabu (30/9): Rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE).
-
Kamis (1/10): Rilis data ISM Manufacturing PMI.
-
Jumat (2/10): Laporan tenaga kerja Nonfarm Payrolls (NFP).
Di luar urusan kalender ekonomi, pergerakan kurs juga sangat dipengaruhi oleh drama geopolitik global. Saat ini, pasar menaruh perhatian pada potensi pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai jalan damai untuk menyudahi perang.
Kabarnya, obrolan ini bakal fokus ke revisi proposal gencatan senjata tujuh hari yang sempat disodorkan Iran di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
Baca juga:
"Rencana tujuh hari Iran tersebut mencakup penghentian segala permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran senilai miliaran dolar, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran," tutup Ibrahim.
Dengan banyaknya sentimen yang campur aduk ini, pergerakan rupiah ke depannya masih butuh katalis positif yang kuat untuk bisa kembali memukul mundur dominasi dolar AS.