MerahPutih.com - Saat ini masyarakat mulai terbiasa menggunakan uang digital dalam berbagai transaksi. Namun perlu diingat keberadaan uang digital tidak akan menggantikan uang kartal, melainkan keduanya saling melengkapi sebagai alat pembayaran yang sah.
"Bahwa digital dan kartal, uang rupiah secara fisiknya atau secara perekonomian tidak saling mengganti, bukan merupakan pengganti tetapi merupakan pelengkap," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ricky Perdana Gozali dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, di Jakarta, Rabu.
Digitalisasi dan penggunaan rupiah secara fisik akan terus dikembangkan secara bersamaan guna memberikan pilihan kepada masyarakat dalam melakukan transaksi.
Penggunaan rupiah secara fisik atau kartal masih terus berkembang meski pertumbuhannya cenderung melandai seiring dengan masifnya digitalisasi transaksi. Di sisi lain, transaksi digital juga terus berkembang signifikan sejalan dengan meningkatnya penggunaan instrumen pembayaran digital oleh masyarakat.
Baca juga:
Rupiah Tunjukkan Perlawanan Terhadap Dolar AS Jelang Pidato RAPBN Presiden Prabowo
"Oleh sebab itu, tentunya bagaimana kita untuk tetap memberikan pemahaman mengenai uang ini, uang rupiah, terhadap semua masyarakat untuk akhirnya bisa mendukung nanti perkembangan dari digitalisasi," katanya pula.
Ia menegaskan, dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai rupiah di tengah perkembangan digitalisasi, BI terus menjalankan kampanye 'Cinta, Bangga, Paham Rupiah'.
"Dengan Bangga Rupiah, kita mengetahui bahwa rupiah itu adalah simbol kedaulatan, alat pembayaran yang sah, dan pemersatu bangsa. Sementara untuk Paham Rupiah kita akan sampaikan bahwa belanja bijak, rupiah itu untuk dipakai dengan bijak, paham bertransaksi, dan untuk berhemat," ujarnya pula.
Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi digital mencapai 5,50 miliar transaksi atau tumbuh 28,69 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2026. Secara rinci, volume transaksi melalui internet dan aplikasi mobile masing-masing tumbuh 9,39 persen (yoy) dan 24,25 persen (yoy).
Transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus tumbuh tinggi mencapai 82,42 persen (yoy). Hal ini didukung adanya peningkatan jumlah pengguna dan merchant. Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel melalui BI-FAST mencapai 546 juta transaksi atau tumbuh 31,62 persen (yoy) dengan nilai transaksi mencapai Rp 1.355 triliun.
Sementara itu, volume transaksi nilai besar melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,99 juta transaksi atau tumbuh 3,12 persen (yoy), dengan nominal transaksi BI-RTGS tumbuh 1,54 persen (yoy) mencapai Rp 20.097 triliun. Dari sisi pengelolaan uang rupiah, uang kartal yang diedarkan (UYD) tumbuh 15,10 persen (yoy) menjadi Rp 1.314 triliun.