Merahputih.com - Setelah sempat bikin ketar-ketir karena menembus batas psikologis, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhirnya unjuk gigi dengan ditutup menguat tajam ke posisi Rp17.894 pada perdagangan Rabu.
Menguatnya kurs rupiah hari ini tentu jadi angin segar yang didorong langsung oleh langkah agresif intervensi Bank Indonesia dan merosotnya harga minyak dunia.
Kenaikan sebesar 87 poin atau 0,48 persen ini menjadi jawaban telak bagi pelaku pasar valas yang sebelumnya sempat menahan napas melihat pergerakan mata uang Garuda.
Baca juga:
Dolar AS Keok! Cek Prediksi Kurs Rupiah Hari Ini Usai Arab Saudi Buka Kran Ekspor Minyak
Melompatnya performa rupiah meninggalkan penutupan sebelumnya di angka Rp17.981 membuktikan bahwa fundamental pasar domestik masih punya daya kejut yang mumpuni.
Tren rupiah menguat ini bahkan ikut mengerek kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) ke level Rp17.877 per dolar AS.
Buat kamu yang aktif memantau instrumen finansial, kolaborasi antara penjagaan ketat otoritas moneter lokal dengan meredanya kepanikan soal suku bunga The Fed jelas bikin aset berbasis rupiah kembali terlihat seksi di mata investor.
Jurus Tegas Intervensi Bank Indonesia di Pasar Valas

Geliat positif mata uang kita nggak datang tiba-tiba, melainkan berkat manuver berani dari Bank Indonesia (BI) yang rajin pasang badan di pasar valuta asing.
Otoritas moneter secara konsisten melakukan intervensi spot sesuai dengan dinamika pasar agar stabilitas nilai tukar tetap terjaga.
BI tetap konsisten melakukan intervensi setelah rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS,
ucap Muhammad Amru Syifa, periset dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX).
Erwin G Hutapea, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, juga menegaskan bahwa komitmen bank sentral untuk turun gunung di pasar spot sama sekali tidak mengendur.
Walaupun instrumen seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF) sekarang porsinya mulai lebih berimbang seiring berkembangnya pasar valas domestik, BI memastikan pertahanan rupiah tetap jadi prioritas utama tanpa harus kaku berpatokan pada komposisi historis 30 persen.
Angin Segar dari The Fed dan Anjloknya Harga Minyak Dunia
Selain faktor internal, perlawanan rupiah juga disokong oleh sentimen global yang belakangan mulai melunak. Meski yield US Treasury tenor 10 tahun sempat nangkring di kisaran 5,27 persen dan bikin dolar AS makin arogan, ada pernyataan menyejukkan dari Presiden New York Fed, John Williams.
Ia memberi sinyal kalau belum ada urgensi buat buru-buru naikin suku bunga lagi, sehingga pasar punya sedikit ruang untuk bernapas.
Baca juga:
Prediksi IHSG Hari Ini: Investor Wajib Hati-hati Ambil Posisi Jelang Penutupan Kuartal III 2026
Kejutan paling manis justru datang dari pasar komoditas. Harga minyak mentah global kompak terjun bebas dan langsung memberikan efek domino positif buat mata uang negara emerging market seperti Indonesia.
"Penguatan ini didukung oleh harga minyak dunia yang turun cukup besar oleh berita bahwa Arab Saudi melanjutkan kembali setengah dari ekspor minyak mentah melalui jalur pipa Timur-Barat," jelas Lukman Leong, Analis Doo Financial.
Meredanya ketegangan logistik minyak dunia ini bikin kekhawatiran pasokan energi langsung ambyar. Berikut adalah rincian koreksi harga minyak yang bikin dolar AS kehilangan tenaga:
-
Meningkatnya arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang bikin suplai global kembali lancar.
-
Minyak mentah Brent: Turun 2,8 persen (2,94 dolar AS) menjadi 102,35 dolar AS per barel.
-
Minyak mentah WTI: Terkoreksi 3,8 persen (3,5 dolar AS) hingga menyentuh level 89 dolar AS per barel.