Merahputih.com - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (20/7) pagi bergerak melemah 56 poin atau 0,31 persen menuju level Rp17.977 per dolar AS. Penurunan ini memperpanjang tren negatif dari posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.921 per dolar AS.
Baca juga:
Menkeu Purbaya Minta Investor Borong Saham dan Lepas Dolar AS Usai Rating S&P Stabil
Konflik militer terbuka antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran jadi penyebab lonjakan harga minyak mentah dan memperkuat indeks dolar AS. Sentimen negatif global tersebut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp17.900 sampai Rp18 ribu dipengaruhi faktor global eskalasi konflik geopolitik,
ujar Analis Bank Woori Saudara Rully Nova dikutip Antara.
Dampak Serangan Militer Global di Selat Hormuz
Ketegangan bersenjata meningkat pasca pengumuman Komando Pusat AS (CENTCOM) mengenai peluncuran serangkaian serangan baru terhadap posisi Iran.
Operasi militer bertujuan melumpuhkan kemampuan blokade Iran terhadap jalur pelayaran komersial strategis di Selat Hormuz. Langkah defensif ini sekaligus menjadi balasan atas serangan terhadap personel militer Amerika Serikat di Yordania.
Pihak Teheran merespons cepat tindakan Pentagon lewat peluncuran armada drone tempur berskala besar menuju fasilitas militer AS di Kuwait. Berikut adalah rincian data kerusakan akibat serangan balasan tersebut:
-
Target Utama Pasukan Iran: Gudang amunisi logistik di Camp Al Adiri, Kuwait.
-
Target Alutsista Udara: Sistem pertahanan rudal Patriot milik militer Amerika Serikat.
-
Target Instalasi Strategis: Radar pertahanan udara aktif di Pangkalan Udara Ali Al Salem.
-
Dampak Sektor Komoditas: Kenaikan tajam harga minyak bumi dunia akibat ancaman jalur pasokan energi.
-
Dampak Sektor Finansial: Penguatan indeks dolar AS secara global akibat status investasi aman (safe haven).
Antisipasi Kebijakan Darurat Bank Indonesia
Merespons volatilitas pasar, pelaku sektor finansial domestik memproyeksikan langkah pengetatan moneter dari bank sentral. Bank Indonesia (BI) diprediksi menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari Rabu (22/7). Langkah intervensi bermaksud menekan laju inflasi serta menjaga stabilitas makroekonomi nasional.
Baca juga:
Fluktuasi pasar modal dalam negeri juga memicu kekhawatiran mengenai penurunan peringkat utang oleh lembaga rating global. Otoritas moneter dituntut bergerak cepat memitigasi risiko pelarian modal asing dari pasar saham.
“Alasan utama kenaikan suku bunga acuan diantaranya inflasi, nilai rupiah, dan volatility pasar saham seiring dengan review oleh lembaga rating global,” kata Rully.

