MerahPutih.com - Ketegangan antara Iran dengan United States dan Israel kembali meningkat di tengah situasi rapuh di kawasan Teluk.
Meski terdapat kesepakatan gencatan senjata sementara, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil dan disebut sejumlah pengamat sebagai fase “tidak damai, tidak perang”.
Fokus utama ketegangan saat ini terjadi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global.
Terbaru kontrol Selat Hormuz terhadap Iran semakin gencar di gucang, dan tidak dipungkiri perang akan kembali pecah karena ada titik ketidak sepakatan dalam jalur laut strategis dan sempit yang terletak antara Iran di utara dan Oman/Uni Emirat Arab di selatan ini:
Baca juga:
Perairannya Diblokade Militer AS, Iran Ancam Balik: Tidak Ada Pelabuhan Aman di Teluk Oman
1. Iran Perketat Kontrol di Selat Hormuz
Pemerintah Iran menegaskan sikap keras terkait keamanan Selat Hormuz. Teheran menyatakan bahwa keamanan di wilayah tersebut harus bersifat menyeluruh dan tidak bisa sepihak.
Iran menegaskan beberapa poin utama:
- Keamanan Selat Hormuz harus berlaku “untuk semua atau tidak sama sekali”
- Kapal yang dianggap terkait pihak musuh tidak akan diberi akses bebas
- Iran tengah menyiapkan mekanisme kontrol baru di jalur pelayaran tersebut
Selain itu, Iran juga dikabarkan mempertimbangkan kebijakan baru berupa tarif dan biaya transit bagi kapal yang melintas.
Jalur pelayaran juga disebut akan diatur lebih dekat ke wilayah pesisir Iran, sebagai bentuk penguatan kontrol strategis.
Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat posisi Teheran di salah satu choke point energi paling penting di dunia.
Baca juga:
Selat Hormuz Resmi Diblokade, Trump Perintahkan Binasakan Kapal-Kapal Iran
2. Kapal Sanctioned AS Tetap Melintas di Tengah Ketegangan
Di tengah meningkatnya tensi, laporan Reuters menyebutkan bahwa kapal tanker yang sebelumnya disanksi United States Department of the Treasury tetap berhasil melintasi Selat Hormuz.
Kapal bernama Rich Starry dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz dan keluar dari kawasan Teluk Persia. Meski sebelumnya masuk daftar sanksi terkait perdagangan minyak Iran.
Selain itu, kapal lain bernama Murlikishan juga dilaporkan menuju wilayah yang sama dan diperkirakan akan melakukan aktivitas pengangkutan minyak dalam waktu dekat.
Pergerakan kapal-kapal tersebut menunjukkan bahwa arus perdagangan energi global masih berlangsung, meski berada dalam bayang-bayang konflik geopolitik.

Ketegangan Iran-Israel mengancam Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dan LNG dunia. (Foto: YouTube/Dawn News English)
3. Perbedaan Fokus AS dan Israel dalam Konflik
Ketegangan juga memperlihatkan perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Israel terkait ancaman utama dari Iran.
Mantan pejabat AS untuk Timur Tengah, Jeffrey Feltman, menyebut bahwa Israel kini lebih fokus pada ancaman rudal balistik Iran dibandingkan Washington.
Baca juga:
Prabowo Bakal Buka-bukaan ke Presiden Prancis, Tegaskan Posisi RI di Konflik Iran Vs AS
Ia menilai terjadi pergeseran perspektif di antara kedua sekutu tersebut.
Menurut Feltman:
- Israel lebih khawatir terhadap program rudal balistik Iran
- AS memiliki fokus yang lebih luas terhadap stabilitas kawasan
- Sekutu di Teluk kini juga semakin waspada terhadap ancaman keamanan regional
Perbedaan ini dinilai dapat memengaruhi arah strategi keamanan di kawasan Timur Tengah ke depan.
4. Harga Minyak Berpotensi Terus Naik
Dampak langsung dari ketegangan di Selat Hormuz mulai terasa pada pasar energi global. Menteri Energi AS, Chris Wright, memperingatkan bahwa harga minyak kemungkinan masih akan meningkat dalam beberapa pekan ke depan.
Ia menyebut bahwa gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor utama tekanan harga energi dunia.
“Selama arus kapal belum kembali normal, kita akan melihat harga energi tetap tinggi, bahkan berpotensi meningkat,” ujarnya dalam sebuah konferensi di Washington.
Menurutnya, stabilitas harga baru bisa kembali jika konflik mereda dan distribusi energi kembali lancar, meski proses pemulihan diperkirakan tidak berlangsung cepat.
Baca juga:
5. Selat Hormuz Jadi Titik Tekanan Geopolitik Dunia
Selat Hormuz kembali menegaskan posisinya sebagai jalur paling krusial dalam perdagangan energi global. Setiap gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada pasar internasional, mulai dari harga minyak hingga inflasi global.
Situasi saat ini menyisakan sejumlah risiko utama: gangguan suplai energi global, eskalasi konflik Iran vs AS–Israel dan ketidakpastian pasar energi dunia