MerahPutih.Com - Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo belum mau banyak komentar mengenai hasil rilis perusahaan perangkat GPS, Tomtom di mana angka kemacetan Jakarta tak ada penurunan selama setahun terakhir ini.
Di situs web resminya pada tahun 2018, Tomtom menyebut tingkat kemacetan Jakarta sebesar 53 persen. Pada 2019, tingkat kemacetan stagnan dengan angka yang sama.
Baca Juga:
Jakarta Masih Tetap Macet, Tigor: Dapat Sustainable Transport Award 2020 Demi Apa?
"Saya belum baca report-nya. Nanti saya pelajari dulu," kata Syafrin di Jakarta, Kamis (30/1).
Mestinya, menurut Syafrin, terjadi peningkatan kinerja lalu lintas di 25 ruas jalan yang diterapkan ganjil genap. Berarti, seharusnya Kepadatan kendaraan juga berkurang.
"Jadi, dari 25 km per jam, rata-rata naik jadi 33 km per jam. Kemudian, terjadi pengurangan volum lalu lintas sebanyak 30 persen," papar dia.
Belum lagi, DKI juga menerapkan strategi pengurangan kedatangan kendaraan dari daerah luar Ibu Kota yang melewati jalan tol. Pengurangan tersebut adalah pemblokiran kendaraan dengan plat nomor yang tidak sesuai hari ganjil-genap ketika keluar gerbang tol di ruas jalan yang diberlakukan sistem ganjil genap.
"Seharusnya, itu mengurangi traffic yang cukup signifikan," ungkap dia.
Seperti diketahui, survei tomtom pada 2019 melibatkan setidaknya 416 kota dari 57 negara di enam benua. Penelitiannya melibatkan berbagai unsur seperti pengendara, kebijakan pemerintah, rencana tata kota, hingga produksi kendaraan.
Peringkat pertama dengan angka kemacetan tertinggi berada di Bengaluru, India dengan tingkat kemacetan 71 persen. Kedua, Manila, Filipina dengan tingkat kemacetan 71 persen. Ketiga, Bogota, Kolombia dengan tingkat kemacetan 68 persen.
Jakarta menempati posisi kesepuluh kota termacet di dunia. Angka kemacetan di Jakarta tidak berkurang, tapi peringkatnya menurun dari tahun 2018 yang menempati peringkat 7.
Baca Juga:
Belum Ada Komitmen Kuat Pemerintah, Jakarta Bakal Terus Macet
Hal itu disebabkan adanya penambahan 13 kota baru yang disurvei Tomtom. Terhitung, pada tahun 2018 terdapat 403 yang diurvei dan 2019 naik menjadi 416.
Dari 13 kota yang baru dimasukan itu, tiga di antaranya langsung menyalip tingkat kemacetan yang lebih tinggi dari Jakarta. Kota-kota itu di antaranya adalah Bengaluru dari India, Manila dari Filipina, dan Pune dari India.(Asp)
Baca Juga: