Merahputih.com - Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, memasuki babak baru setelah Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) membeberkan ciri-ciri fisik dua pelaku penyerangan di Jalan Salemba, Jakarta Pusat.
Peristiwa yang terjadi menjelang tengah malam ini diduga kuat merupakan aksi teror terencana mengingat tidak ada harta benda korban yang hilang di lokasi kejadian.
Detail Ciri-Ciri Pelaku dan Kronologi Kejadian
KontraS menyebutkan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh dua orang pria yang berboncengan menggunakan sepeda motor jenis matik, diduga kuat Honda Beat keluaran tahun 2016 hingga 2021.
Baca juga:
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras oleh OTK Usai Rekam Podcast
Berdasarkan pantauan dan informasi yang dihimpun, pelaku pertama yang bertindak sebagai pengendara mengenakan kaus kombinasi putih-biru, celana gelap berbahan jins, dan helm berwarna hitam.
Sementara itu, pelaku kedua yang duduk di bangku penumpang mengenakan masker atau buff hitam yang menutupi setengah wajahnya.
Pelaku ini memakai kaus biru tua dan celana panjang biru yang dilipat pendek. Aksi brutal ini terjadi tepat pada pukul 23.37 WIB saat Andrie melintasi kawasan Jembatan Talang.
"Pukul 23.37 Andrie Yunus sedang mengendarai kendaraan roda dua miliknya di Jalan Salemba I, Talang, dan kemudian dua orang pelaku menghampiri dengan melawan arah Jalan Talang (Jembatan Talang) dengan mengendarai kendaraan roda dua," ungkap KontraS dalam keterangannya.
Kondisi Korban dan Rekam Jejak Aktivisme
Sesaat setelah kejadian, salah satu pelaku menyiramkan cairan kimia berbahaya yang mengenai bagian kanan tubuh hingga area mata korban.
Andrie Yunus langsung berteriak kesakitan dan terjatuh dari motornya sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit terdekat di Jakarta untuk mendapatkan penanganan darurat.
Baca juga:
Aktivis HAM Andrie Yunus Disiram Air Keras, KontraS: Upaya Membungkam Suara Kritis
Andrie Yunus merupakan sosok yang vokal di dunia hukum. Alumnus Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera ini memiliki rekam jejak panjang sebagai pembela hak asasi manusia.
Sebelum menjabat sebagai Wakil Koordinator KontraS, ia aktif di LBH APIK Jakarta dan menjadi staf advokasi hukum publik di LBH Jakarta pada periode 2020-2022.
Hingga saat ini, belum diketahui motif di balik serangan yang menyasar aktivis yang pernah menulis skripsi tentang peran paralegal tersebut.
Dugaan Upaya Pembungkaman Aktivis
Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menjelaskan bahwa serangan ini terjadi tepat setelah korban selesai melakukan rekaman podcast bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di Kantor YLBHI. Dimas menegaskan bahwa tidak ada barang berharga milik korban yang hilang, sehingga kuat dugaan aksi ini bukan motif perampokan.
"Pasca peristiwa tersebut, Andrie Yunus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan secara medis. Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24%," ujar Dimas Bagus Arya.
Dimas menilai serangan ini merupakan ancaman nyata bagi demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia di Indonesia. Ia mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas dalang di balik serangan ini.
"Dimas menduga tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat khususnya pembela HAM. Peristiwa ini harus segera mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk lembaga penegak hukum dan masyarakat sipil," tegasnya.