Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

OTT Komisioner Timbulkan Persepsi KPU Gampang Dibeli

Andika Pratama - Jumat, 10 Januari 2020

MerahPutih.com - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai, kasus dugaan suap penetapan pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR 2019-2024 yang menjerat Komisioner KPU Wahyu Setiawan berpotensi menghilangkan kepercayaan (distrust) publik terhadap integritas KPU.

"Tentu institusi itu bisa kehilangan kepercayaan, distrust, dari yang selama ini KPU trust-nya bagus. Satu orang itu bisa mengurangi trust itu, kepercayaan terhadap integritas KPU-nya. Jadi kalau kita bicara distrust terhadap institusi tetap ada, nggak mungkin nggak," kata Pangi kepada wartawan, Jumat (10/1).

Siap Mainkan!

Baca Juga Jadi Kode Suap Komisioner KPU Terkait PAW Caleg PDIP

Menurutnya, kasus Wahyu bisa menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu 'gampang dibeli.'

"Seolah nanti persepsi, pandangan publik menilai bahwa KPU ini gampang dibeli. Bahwa permainan-permainan itu tidak hanya di komisioner di daerah, kabupaten, kota, provinsi, tetapi di KPU RI saja masih bisa di gonta-ganti. Contoh PAW ini kan main dengan komisionernya menggonta-ganti orang," ujar Pangi.

Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Jumat (10/1/2020) dini hari. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.
Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Jumat (10/1/2020) dini hari. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.

Akibat dari ketidakpercayaan publik terhadap KPU, lanjut Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini, juga dapat mengganggu legitimasi terhadap pemimpin yang terpilih melalui Pemilu ataupun Pilkada.

Baca Juga

Pekan Depan Komisi II Panggil KPU Soal OTT Wahyu Setiawan

"Karena kalau KPU-nya hilang kepercayaan publik terhadap institusi penyelenggara pemilu, maka secara tidak langsung legitimasi terhadap pemimpin yang terpilih itu terganggu sebenarnya. Karena legitimasi itu sangat dibutuhkan," ucap dia.

"Orang yang punya kekuasaan itu pasti punya legitimasi yang kuat, tapi kalau legitimasinya diambil rakyat karena ketidakpercayaan pada penyelenggara pemilunya maka agak repot kedepannya," jelas Pangi.

Pangi mengingatkan agar kasus yang menimpa Wahyu menjadi alarm bagi KPU untuk segera berbenah dan bekerja lebih keras lagi dalam mengembalikan kepercayaan publik.

Baca Juga

Jadi Tersangka KPK, Wahyu Setiawan Mundur dari KPU

"Terutama bagaimana kedepannya KPU membangkitkan dari distrust menjadi trust building itu. Membangun kepercayaan publik itu yang penting. Karena kepercayaan itu nggak bisa dibeli, itu kan mahal sekali," jelas Pangi.

"Institusi itu kan yang penting rohnya ada pada kepercayaan itu. Kalau kepercayaan publik itu hilang maka KPU harus bekerja keras lagi untuk merebut kepercayaan itu, apalagi menjelang Pilkada serentak 2020," pungkasnya. (Knu)

Baca Artikel Asli