Nilai tukar rupiah hari ini terhadap dolar AS ditutup sedikit lesu, turun tipis 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp18.156 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (2/11).
Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS ini terjadi meskipun Indonesia baru saja mencetak surplus neraca perdagangan, karena pasar lebih merespons sentimen eksternal dari dinamika diplomasi geopolitik dan sinyal ketat dari bank sentral Amerika Serikat.
Baca juga:
Rupiah Hari Ini Tumbang ke Rp18.046, Ancaman Suku Bunga The Fed Bikin Dolar AS Makin Beringas
Pergerakan kurs rupiah hari ini memang sedang diombang-ambingkan oleh ketidakpastian global yang membuat para investor memilih posisi wait and see.
Analis mata uang dan Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menyoroti bahwa prediksi rupiah dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada bagaimana tarik-ulur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, mengingat efek dominonya bisa langsung mengerek harga energi.
Jadi, meskipun data fundamental ekonomi domestik kita terbilang cukup solid dan ekspansif, pergerakan kurs rupiah masih harus berjuang keras menahan kuatnya gempuran dolar AS pekan ini.
Drama Geopolitik dan Ancaman Kebijakan The Fed
Isu utama yang membebani mata uang Garuda berasal dari ketegangan di Timur Tengah. Menurut Ibrahim, dinamika pembicaraan antara para pemimpin dunia menjadi faktor krusial yang terus dipantau oleh pelaku pasar.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui sambungan telepon pada hari Sabtu (31/10) bahwa ia lebih memilih untuk memberikan lebih banyak waktu bagi diplomasi sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan tindakan militer,
ungkap Ibrahim dalam pernyataan tertulisnya.
Meski pendekatan diplomasi ini sedikit meredakan kepanikan, bayang-bayang konflik militer tetap menjadi risiko besar. Apalagi, diskusi maraton yang dimediasi oleh Qatar untuk membuka kembali Selat Hormuz belum sepenuhnya mengurai kekhawatiran.
Jalur perairan tersebut tetap menjadi perhatian utama bagi pasar energi. Serangan terhadap kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman serta asuransi,
tegasnya.
Di luar urusan geopolitik, nada hawkish dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) makin menekan mata uang emerging market seperti Rupiah. Lorie Logan (Presiden The Fed Dallas) dan Alberto Musalem (Presiden The Fed St. Louis) sepakat menyuarakan perlunya kenaikan suku bunga lanjutan dalam waktu dekat karena kebijakan saat ini dinilai masih terlalu longgar.
Kini, mata investor tertuju pada rilis data PMI Manufaktur ISM dan rentetan data tenaga kerja AS, seperti JOLTS hingga Nonfarm Payrolls (NFP).
Baca juga:
Data Domestik Solid, Kenapa Rupiah Belum Menguat?
Di dalam negeri, sebenarnya banyak kabar baik yang seharusnya bisa menjadi tameng bagi pergerakan rupiah. Berikut adalah beberapa indikator utama yang menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia:
-
Surplus Neraca Perdagangan: BPS mencatat surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Ekspor tembus 27,59 miliar dolar AS, meski nilai impor juga ikut terkerek imbas naiknya harga minyak.
-
Inflasi yang Terkendali: Laju inflasi Oktober 2026 berada di angka 0,22 persen (bulanan) dan 3,23 persen (tahunan). Ini sinyal bagus bahwa tekanan harga mulai mereda di tengah masyarakat.
-
Sektor Manufaktur Ekspansif: PMI Manufaktur S&P Global Indonesia melompat ke angka 54,0 pada Oktober (dari 52,4 di September), mencetak rekor ekspansi tertinggi sejak Maret 2024.
Sebagai catatan tambahan penutup perdagangan hari ini, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga terpantau ikut melemah ke level Rp18.161 per dolar AS, tergelincir dari posisi sebelumnya di angka Rp18.138 per dolar AS.
