Mengintip Kandungan Shisha dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Selasa, 01 Maret 2022 - Andreas Pranatalta

SHISHA kerap dijadikan sebagai rokok alternatif yang cocok jika kamu ingin berhenti merokok. Shisha juga dianggap memiliki kandungan nikotin yang lebih sedikit. Benarkah demikian?

Dibandingkan rokok biasa, shisha elektrik atau e-hookah tidak memerlukan korek api dalam penggunaannya. Shisha elektrik merupakan varian dari rokok elektronik atau vaping.

Tampilannya dapat berbentuk pena, stik, atau bahkan perangkat USB. Shisha elektrik memungkinkan penggunanya menghirup uap yang mengandung bahan-bahan tertentu, seperti perasa buah atau nikotin.

Seperti halnya shisha tradisional, shisha elektrik juga tersedia dengan berbagai varian rasa, seperti stroberi, vanila, ceri, kayu manis, dan tembakau. Shisha elektrik juga menggunakan perangkat pemanas dan penguap yang ditenagai oleh baterai. Ketika dinyalakan, pemanas akan menyala dan memanaskan cartridge berisi cairan hingga menjadi uap.

Baca juga:

Shisha Ternyata Lebih Berbahaya Dibandingkan Rokok

Mengintip Kandungan Shisha dan Dampaknya Bagi Kesehatan
Shisha tradisional dibakar menggunakan arang. (Foto: Unsplash/Awesome Sauce Creative)

Mengutip laman Alodokter, di dalam shisha elektrik terdapat cartridge atau tabung isi ulang yang berisi cairan. Cairan tersebut mengandung bahan kimia, seperti propilen glikol dan gliserol. Namun, kedua kandungan ini juga berpotensi membahayakan kesehatan.

Propilen glikol adalah cairan senyawa organik yang tidak berwarna dan tidak berbau, namun rasanya agak manis. Lembaga Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) menyatakan bahwa senyawa ini aman jika digunakan dalam kadar rendah di dalam makanan, obat, dan kosmetik.

Meski begitu, tetap saja berbahaya jika digunakan dalam kadar yang tinggi. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa mengonsumsi propilen glikol dalam kadar tinggi kemungkinan dapat menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan mengganggu kerja saraf otak. Uap yang mengandung propilen glikol bahkan bisa menyebabkan iritasi mata, kulit, atau paru-paru.

Baca juga:

Instagram Akan Larang Influencer Promosikan Vape? Kenapa?

Mengintip Kandungan Shisha dan Dampaknya Bagi Kesehatan
Shihsa elektrik merupakan varian dari rokok elektronik atau vaping. (Foto: Unsplash/Vaporesso)

Gliserol atau gliserin merupakan cairan kental tidak berbau dan tidak berwarna, fungsinya sebagai pelarut dari nikotin, zat kimia perisa, dan bahan pengawet dalam shisha elektrik. Cairan yang terasa sedikit manis ini dianggap tidak beracun dan sering dipakai dalam industri makanan.

Sebagai produk shisha elektrik yang dijual di pasaran diketahui mengandung nikotin. Zat yang diproduksi dari daun tembakau ini merupakan zat adiktif yang dapat memberi efek candu. Zat inilah yang membuat pecandu rokok sulit untuk berhenti. Penggunaan nikotin dapat menyebabkan beberapa efek samping, seperti menurunnya nafsu makan, meningkatkan denyut jantung, dan meningkatkan tekanan darah.

Pembakaran cairan shisha elektrik akan menghasilkan zat kimia beracun, seperti formaldehida, asetaldehida, dan akrolein. Kendari para produsen shisha elektrik mengklaim produknya aman digunakan, faktanya, belum banyak riset kesehatan yang dapat membuktikan bahwa shisha elektrik benar-benar aman digunakan. (and)

Baca juga:

Pelajar Tangerang Pesta Shisha, Dinas Pendidikan Jangan Tinggal Diam

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan