MerahPutih.com – Fenomena bediding kembali melanda Malang Raya pada musim kemarau 2026. Kondisi suhu dingin yang muncul akibat aktifnya angin monsun timuran ini bukan sekadar fenomena musiman, tetapi juga membawa dampak serius bagi sektor pertanian dan peternakan.
“Bediding merupakan kondisi dengan suhu lingkungan lebih dingin dibandingkan normalnya, ditandai dengan aktifnya angin monsun timuran yang sifatnya kering dan dingin,” kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Linda Fitrotul, kepada media, Kamis (4/6).
Baca juga:
Suhu Turun Drastis
BMKG mencatat rata-rata suhu udara saat fenomena bediding berkisar antara 17–18 derajat Celsius pada dini hari pukul 03.00–06.00 WIB. Sementara pada malam hari, suhu tercatat 20–21 derajat Celsius.
“Berdasarkan pengamatan pukul 07.30 WIB, suhu pagi sekitar 22–25 derajat Celsius, kemudian siang hari mencapai 27–29 derajat Celsius,” Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jatim Linda Fitrotul
Kondisi ini terjadi karena minimnya tutupan awan dan rendahnya intensitas hujan selama musim kemarau. Bediding diperkirakan berlangsung hingga September 2026.
Baca juga:
Dampak ke Pertanian dan Peternakan
BMKG mengingatkan fenomena ini dapat memicu embun es di dataran tinggi. Embun es berpotensi merusak tanaman hortikultura seperti sayuran, bunga, dan buah-buahan.
Tak hanya itu, sektor peternakan juga terancam. Hewan ternak bisa mengalami stres akibat suhu dingin ekstrem, bahkan berisiko terkena penyakit hingga kematian.
Baca juga:
Ibu Kota dalam Bayang-bayang Cuaca Ekstrem, BPBD DKI Jakarta Pastikan Kesiapan Personel 24 Jam
“Bediding memberikan dampak terhadap pertanian dan peternakan, sehingga perlu langkah antisipasi dari masyarakat,” ujar Linda, dilansir Antara.
Untuk itu, petani dan peternak di kawasan Malang Raya diimbau untuk melakukan langkah-langkah mitigasi. Petani disarankan menggunakan pelindung tanaman di malam hari, sementara peternak perlu memastikan kandang tetap hangat agar ternak tidak stres. (*)