Merahputih.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan Selasa (21/7) mengalami lonjakan positif menuju zona hijau.
Pasar modal domestik mencatatkan penguatan di tengah sikap wait and see para pelaku pasar menanti kepastian arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Menguat 41 Poin, Rupiah Naik Ke Rp17.937 Per Dolar
Lompatan poin terlihat pada pembukaan perdagangan pagi. Indeks domestik melesat 41,79 poin atau 0,67 persen menuju posisi 6.273,57.
Langkah positif ini melingkupi pula kelompok 45 saham unggulan, Indeks LQ45, naik 6,25 poin atau 1,00 persen menempati posisi 634,00.
Diperkirakan IHSG berpotensi uji level resistance di 6.250-6.300, meskipun perlu diwaspadai potensi profit taking,
ucap Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim.
Ekspansi Kredit dan Kebijakan Suku Bunga BI
Pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Selasa hingga Rabu menentukan arah BI-Rate terkini posisi 5,75 persen.
Kenaikan akumulatif 100 basis poin sepanjang tahun berjalan membuktikan komitmen otoritas moneter menjaga stabilitas pasar.
Kondisi sektor riil menunjukkan sinyal positif seiring lonjakan penyaluran kredit perbankan nasional. Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia mencatat kenaikan signifikan saldo bersih tertimbang permintaan pembiayaan baru.
Data indikator ekonomi serta kinerja bursa domestik dan global:
-
Pembukaan IHSG: Menguat 0,67 persen menuju posisi 6.273,57.
-
Pergerakan LQ45: Naik 1,00 persen menuju posisi 634,00.
-
SBT Penyaluran Kredit Baru Kuartal II 2026: Tembus 93,08 persen, melonjak dibanding Kuartal I 2026 (38,74 persen) dan Kuartal II 2025 (85,22 persen).
-
Kredit Modal Kerja: Mencatatkan SBT tertinggi sebesar 94,34 persen.
-
Kredit Investasi Dan Konsumsi: Masing-masing mencatatkan SBT 93,51 persen dan 83,67 persen.
-
Suku Bunga Acuan PBoC China: Bertahan pada level terendah 3 persen (tenor 1 tahun) dan 3,5 persen (tenor 5 tahun).
Dampak Sentimen Geopolitik Dan Bursa Global
Ancaman eskalasi konflik Amerika Serikat kontra Iran memperkeruh stabilitas harga minyak mentah dunia. Lonjakan harga komoditas ini berpotensi memicu kembali kenaikan angka inflasi Amerika Serikat sekaligus memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
“Jika harga minyak bertahan di level tinggi pada waktu yang lama, akan mendorong kenaikan kembali inflasi AS, serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” ungkap Ratna Lim.
Baca juga:
Rupiah Amblas Dekati Rp18.000 Per Dolar AS,Sentimen Perang Global Hantam Pasar Keuangan Domestik
Kondisi bursa saham global menunjukkan pergerakan bervariasi. Wall Street menutup sesi perdagangan sebelumnya dalam tekanan penutupan, Indeks S&P 500 melemah 0,19 persen ke 7.443,28, Nasdaq melemah 0,05 persen ke 25.508,07, serta Dow Jones terkoreksi 0,59 persen ke 51.839,26.
Bursa regional Asia bergerak cenderung hati-hati merespons kombinasi data ekonomi China serta ketegangan wilayah Timur Tengah.

