Mabes Polri memastikan bahwa para anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terlibat kontak senjata dengan anggota Polres Tuban di wilayah Jenu, Tuban, Jawa Timur, Sabtu (8/4) lalu, merupakan kelompok amatiran dalam menggunakan senjata api.
"Mereka enggak latihan. Buktinya mereka menembak saja gak bener. (Kualitas gerilya) menurun banget. Menembaknya mencong-mencong," ujar Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Senin (10/4).
Meski kelompok amatiran dalam penggunaan senjata dan juga gerilya lapangan, Mabes Polri tetap meminta seluruh jajaran kepolisian untuk meningkatkan kewaspadaan akan serangan serupa. Sel teroris akan otomatis muncul dengan tertembaknya rekan-rekan mereka.
"Ada yang ditangkap ada yang tumbuh baru lagi. Ditangkap satu lainnya muncul. Tapi makin melemah. Kita harus waspada," kata Boy.
Dikatakan Boy, para pelaku memang sengaja mengincar anggota dan pos satuan lalu lintas yang berada di jalan raya. "Semua pos lantas rawan yang biasa dipakai atur lalu lintas itu rawan. Banyak banget," kata Boy.
Untuk itu, Mabes Polri tengah mengupayakan pembekalan sebuah rompi antipeluru terhadap seluruh anggota satuan lalu lintas. Pengupayaan itu dilakukan setelah aksi baku tembak di Tuban.
"Tapi tidak semua anggota kita pakai rompi antipeluru. Ada dapat ada tidak. Tapi kewaspadaan nomor satu. Ketika ada baku tembak dia langsung merunduk cepat dan kemungkinan pelakunya belum profesional," jelas Boy.
Dalam baku tembak itu, enam orang terduga teroris jaringan JAD berhasil ditembak mati. Empat orang telah teridentifikasi yaitu AH, SA, Y, EP. Sementara dua lainnya belum dapat teridentikasi.
Serangan ini merupakan perintah dari Zainal Anshori, Amir JAD Nusantara yang sebelumnya ditangkap di Tuban. (Ayp)
Berita terkait penangkapan teroris di Tuba baca juga: Ini Kondisi Rumah Salah Seorang Pelaku Teror Tuban