MERAHPUTIH.COM — SEORANG pria berusia 21 tahun diadili di selatan Wina atas tuduhan merencanakan dan mempersiapkan serangan jihad. Penyerangan dilakukan saat konser Taylor Swift di Austria pada Agustus 2024. Penyerangan itu membuat 195 ribu fan batal menyaksikan Swift tampil di atas panggung.
Seperti dilansir BBC, pria yang hanya disebut sebagai Beran A itu dibawa ke ruang sidang di Wiener Neustadt dengan mengenakan kemeja biru dan borgol. Ia menghadapi dakwaan terorisme dan pelanggaran lainnya. Ia ditangkap setelah adanya informasi dari CIA tepat sebelum konser pembuka Swift di Wina pada 2024.
Akibatnya, tiga konser yang tiketnya telah terjual habis oleh penyanyi superstar asal AS tersebut di Ernst Happel Stadium dibatalkan. Lebih dari 195.000 orang diperkirakan akan hadir secara total. Ribuan penggemar yang kecewa berkeliaran di jalan-jalan Wina, bernyanyi dan bertukar gelang persahabatan bertema Taylor Swift.
Beran A diadili bersama pria lain yang juga berusia 21 tahun, yang disebut sebagai Arda K. Keduanya dituduh menjadi bagian dari sel Islamic State bersama. Mereka juga dituduh merencanakan serangan lain di Mekah, Istanbul, dan Dubai.
Baca juga:
Taylor Swift Batalkan Konser Eras Tour di Wina karena Masalah Terorisme, Refund Segera Cair
Menjelang persidangan, Anna Mair, pengacara Beran A, mengatakan kliennya akan mengaku bersalah sebagian. Jaksa di Wina mendakwanya sebagai anggota organisasi teroris, serta merencanakan dan mempersiapkan serangan terhadap konser Taylor Swift. Ia juga dituduh menyatakan kesetiaan kepada serta menyebarkan propaganda daring untuk kelompok Islamic State, membuat bahan peledak, dan mencoba membeli senjata secara ilegal.
Menurut dakwaan, Beran A diduga memperoleh instruksi melalui internet tentang cara membuat bom serpihan, jenis yang khas digunakan dalam serangan IS.
Jaksa menuduh Beran A menerima pelatihan dari anggota lain Islamic State tentang cara menangani bahan peledak, serta melakukan beberapa upaya untuk membeli berbagai senjata api dan granat tangan melalui jalur ilegal dengan tujuan memasukkannya ke Austria. Jaksa menyebut Beran A mulai merencanakan serangan tersebut paling lambat pada 21 Juli 2024. Ia ditangkap pada 7 Agustus, sehari sebelum konser pertama Swift.
Kedua pria tersebut, yang masih berusia remaja saat perencanaan serangan, masing-masing terancam hukuman hingga 20 tahun penjara jika terbukti bersalah. Tahun lalu, seorang remaja di Jerman juga dijatuhi hukuman percobaan 18 bulan karena membantu mempersiapkan serangan yang berhasil digagalkan tersebut.
Jaksa mengatakan warga negara Suriah bernama Mohammed A membantu Beran A dengan menerjemahkan instruksi pembuatan bom dari bahasa Arab dan menghubungkannya dengan anggota IS. Persidangan atas keduanya diperkirakan berlangsung hingga akhir Mei.
Swift dikabarkan mengetahui rencana pengeboman di Wina saat ia berada di pesawat menuju Austria untuk tur dunia Eras. Dalam pernyataannya sendiri, Swift mengatakan tur tersebut nyaris menghindari situasi pembantaian ketika CIA mengidentifikasi rencana untuk meledakkan bom di konser tersebut.
“Pembatalan konser kami di Vienna sangat menyedihkan. Tetapi saya juga sangat berterima kasih kepada pihak berwenang, karena berkat mereka, yang kami tangisi ialah konser, bukan nyawa,” kata Swift dalam unggahan media sosial setelah pembatalan konser tersebut.
Tur Eras Tour yang terdiri dari 149 pertunjukan dimulai pada Maret 2023 dan berakhir pada Desember 2024. Tur tersebut menjangkau lima benua, menjual lebih dari 10,1 juta tiket, dan menjadi tur pertama dalam sejarah yang melampaui pendapatan tiket sebesar USD 1 miliar.(dwi)
Baca juga:
Taylor Swift Baru Buka Suara soal Batalnya Konser Tur Eras di Wina