Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Klaus Thymann Petakan Gletser Terakhir Papua yang di Ambang Kepunahan

Dwi Astarini - 1 jam, 31 menit lalu

MERAHPUTIH.COM - DI tengah bentang alam tropis Papua yang diselimuti hutan hujan dan udara lembap, keberadaan gletser mungkin terdengar seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Namun, di ketinggian Pegunungan Carstensz, tepatnya di Puncak Jaya, lapisan es abadi pernah menjadi bagian dari lanskap yang bertahan selama ribuan tahun. Kini, keberadaannya perlahan terancam dan diperkirakan akan segera menjadi bagian dari sejarah.


Kondisi tersebut mendorong Klaus Thymann, penjelajah sekaligus pembuat peta asal Denmark, untuk kembali menapakkan kaki di kawasan Puncak Carstensz pada akhir 2025. Melalui ekspedisi Project Pressure, ia berupaya mendokumentasikan sisa-sisa gletser tropis Papua yang terus menyusut akibat perubahan iklim.


Salah satu sasaran utama ekspedisi ini ialah East Northwall Firn, lapisan es yang masih bertahan di kawasan pegunungan tersebut. Bagi Thymann, perjalanan ini bukan sekadar upaya menjangkau puncak tertinggi di Indonesia, melainkan kesempatan untuk merekam jejak es yang mungkin tidak akan bertahan lebih lama lagi.


Namun, mencapai lokasi gletser bukan perkara mudah. Kondisi keamanan di Papua membuat akses menuju kawasan pegunungan tersebut terbatas. Tim ekspedisi harus menggunakan helikopter untuk mencapai base camp di Lembah Kuning, yang berada pada ketinggian sekitar 4.200 meter di atas permukaan laut.

Baca juga:

BNPB Kerahkan Modifikasi Cuaca untuk Tekan Karhutla Papua Selatan


Menurut laporan BBC News Indonesia, Thymann bahkan harus menunggu lebih dari sepekan di Timika sebelum memperoleh kesempatan terbang menuju kawasan Carstensz. Setibanya di base camp, perjalanan kembali tertunda karena tim harus menunggu cuaca yang memungkinkan sekaligus mendapatkan izin keamanan untuk melanjutkan ekspedisi.
Di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat urgensi yang lebih besar: merekam keberadaan gletser sebelum semuanya benar-benar menghilang.


Sebagai salah satu kawasan dengan gletser tropis yang sangat langka, Papua menyimpan catatan penting mengenai perubahan iklim bumi. Sejak 1980, wilayah ini dilaporkan telah kehilangan empat dari enam lapisan es permanennya seiring meningkatnya suhu global.
Ancaman tersebut kini semakin nyata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan es abadi di Puncak Jayawijaya akan mencair sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027.


“Sulit dipercaya, tapi mungkin kita ialah generasi terakhir yang masih sempat melihat es abadi di Indonesia,” tulis BMKG melalui media sosialnya pada Juli lalu.


Prediksi itu sejalan dengan kekhawatiran Thymann terhadap masa depan gletser Papua. Dalam laporan The Guardian, ia menyebut hilangnya es bukan lagi persoalan apakah hal itu akan terjadi, melainkan kapan waktunya tiba.

Es itu akan hilang, bukan soal apakah akan hilang, melainkan soal kapan.

Klaus Thymann, penjelajah sekaligus pembuat peta asal Denmark

Bagi kebanyakan orang, gletser mungkin lebih lekat dengan kawasan kutub atau pegunungan bersalju di belahan bumi utara. Padahal, fenomena alam ini juga dapat ditemukan di sejumlah wilayah tropis, seperti Pegunungan Andes di Amerika Selatan, Afrika Timur, hingga Papua. Keberadaan es di tengah lingkungan tropis menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya mengubah suhu udara, tetapi juga perlahan menghapus bentang alam yang selama ini dianggap abadi.


Ketika gletser Papua mencair, dunia bukan hanya kehilangan lanskap yang unik. Lapisan es tersebut juga menyimpan rekaman sejarah iklim bumi yang terbentuk selama ribuan tahun. Kehilangannya berarti hilangnya sebagian arsip alam yang tidak mungkin dipulihkan kembali.
Melalui Project Pressure, Thymann berusaha memastikan bahwa jejak tersebut tetap dapat dipelajari meski esnya kelak sudah tidak ada. Dokumentasi visual dan data ilmiah yang dikumpulkan dalam ekspedisi ini akan menjadi arsip bagi peneliti, pemerintah, serta generasi mendatang.


Salah satu hasil penting dari perjalanan tersebut yakni pemetaan tiga dimensi gletser yang tersisa. Model ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengamati perubahan luas dan volume es dari waktu ke waktu, sekaligus membantu memahami seberapa cepat gletser Papua menuju kepunahannya.


Pada akhirnya, ekspedisi Thymann bukan semata perjalanan menuju puncak. Ia juga menjadi upaya merekam sesuatu yang perlahan menghilang dari hadapan manusia. Di antara pegunungan Papua, es abadi kini menyisakan pertanyaan tentang seberapa lama lagi generasi berikutnya masih dapat menyaksikan kehadirannya secara langsung.(Far)

Baca juga:

Bumi makin Panas, Gletser China Menyusut 26 Persen Mengancam Sumber Air Dunia

Baca Artikel Asli