Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Ini Kata Pengamat Terkait Perpecahan di Munas Golkar

Zulfikar Sy - Rabu, 27 November 2019

MerahPutih.com - Pengamat politik dari Universitas Indonesia Ade Reza Hariyadi menilai, Partai Golkar justru rugi jika sampai mengalami perpecahan dalam musyawarah nasional (munas) yang digelar Desember mendatang.

"Golkar mesti berhati-hati dan belajar dari pengalaman masa lalu. Apalagi, Golkar akan menghadapi pilkada pada 2020 di 270 daerah," katanya, seperti dikutip Antara, Selasa (26/11).

Baca Juga:

Mangkir 4 Kali, KPK Siap Seret Legislator Golkar Melchias Mekeng

Reza menilai, perpecahan akan sangat merugikan kepentingan politik Golkar ke depan, termasuk dalam menghadapi pilkada serentak 2020.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto(MP/Ismail)
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto(MP/Ismail)

Menurut dia, dinamika yang terjadi sebenarnya lebih dikarenakan kepentingan untuk memperebutkan kekuasaan di internal partai.

Artinya, kata dia, sebetulnya tidak ada pandangan secara prinsip di antara kubu yang berdinamika dalam kaitan aspek ideologis dan relasi Golkar dengan pemerintahan.

"Jadi, alasan-alasan untuk melakukan pembelahan di tubuh Golkar menjadi tidak cukup rasional dan tidak cukup menguntungkan," ujarnya.

Persoalannya akan menjadi berbeda, lanjut dia, jika satu kubu mendukung pemerintah, sementara kubu lain memilih beroposisi sehingga terjadi pertentangan ideologis.

"Tetapi, ini kan tidak dalam posisi diametral. Baik Airlangga maupun Bambang Soesatyo kan tidak dalam posisi pro atau tidak dengan pemerintah," katanya.

Diakui Reza, riak-riak dan dinamika menjelang dan dalam perjalanan Munas Golkar pasti akan terjadi, apalagi untuk partai sebesar Golkar, sebagai peraih suara terbanyak kedua pada Pemilu 2019.

Baca Juga:

Mayoritas DPD Provinsi Diklaim Dukung Airlangga Kembali Jadi Ketum Golkar

Namun, kata dia, dinamika tersebut akan mudah diatasi dan tidak akan sampai pada perpecahan sepanjang tidak ada perbedaan fatsun politik secara ideologis.

Bambang Soesatyo di Rumah Sakit Pelni, Jakarta Barat, Rabu, (25/9). Foto: MP/Kanu
Bambang Soesatyo di Rumah Sakit Pelni, Jakarta Barat, Rabu, (25/9). Foto: MP/Kanu

"Ya, kalau memang ada 'gentlement agreement' mestinya ditaati. Kalau tidak ada, ya, jalankan sesuai aturan main partai yang mampu mengakomodasi semua kepentingan," kata Reza.

Partai Golkar akan melaksanakan munas pada 4-6 Desember 2019 yang salah satu agendanya adalah pemilihan Ketua Umum Partai Golkar periode 2019-2024.

Setidaknya ada lima nama yang akan bersaing sebagai calon ketua umum, yakni Airlangga Hartarto sebagai petahana, Bambang Soesatyo, Ridwan Hisjam dan Indra Bambang Utoyo, serta Agun Gunandjar Sudarsa. (*)

Baca Juga:

Hampir 400 DPD Diklaim Dukung Bamsoet Jadi Ketum Golkar

Baca Artikel Asli