Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita

Influenza Masih Mengancam, Ahli: Vaksin Trivalent Jadi Kunci Perlindungan

Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 24 April 2026

MerahPutih.com - Influenza masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan pernapasan di tingkat global, dengan angka kematian yang diperkirakan mencapai ratusan ribu setiap tahunnya, termasuk di Indonesia.

Di wilayah tropis seperti Indonesia, peredaran virus yang berlangsung sepanjang tahun membuat influenza menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang harus dihadapi secara konsisten dan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, vaksin influenza tetap memegang peranan krusial dalam melindungi masyarakat dari risiko infeksi maupun komplikasi yang lebih berat. Pada diskusi yang digelar oleh Kalventis dalam konteks tersebut, vaksin influenza tetap memegang peranan krusial dalam melindungi masyarakat dari risiko infeksi maupun komplikasi yang lebih berat.

Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli kesehatan dunia, termasuk World Health Organization (WHO), tidak lagi mendeteksi sirkulasi virus B/Yamagata.

Hal ini kemudian mendorong penyesuaian komposisi vaksin sebagai respons terhadap perubahan pola epidemiologi influenza yang terus berkembang.

“Selama lebih dari satu dekade, vaksin quadrivalent dikembangkan untuk melindungi dari dua galur virus flu jenis A yaitu H1N1 dan H3N2 serta dua galur virus flu jenis B yaitu Victoria dan Yamagata. Namun, sejak tahun 2020, virus B/Yamagata tidak ditemukan lagi di seluruh dunia. Oleh karena itu, pada 2023, WHO menilai bahwa keberadaan komponen virus B/Yamagata dalam vaksin tidak diperlukan lagi,” ujar Prof. Soedjatmiko, selaku Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Baca juga:

Vaksin Influenza Berikan Kekebalan Pada Infeksi Akibat Human Metapneumovirus

Berbagai studi menunjukkan bahwa vaksin influenza trivalent memiliki tingkat imunogenisitas, efektivitas, serta keamanan yang setara dengan vaksin quadrivalent.

Soedjatmiko menekankan bahwa efektivitas vaksin sangat dipengaruhi oleh kesesuaian antara antigen dan virus yang sedang beredar, sehingga vaksin trivalent tetap mampu memberikan perlindungan yang optimal.

“Transisi dari QIV ke TIV bukanlah bentuk pengurangan perlindungan, melainkan optimalisasi vaksin sesuai dengan bukti ilmiah terbaru. Fokus utama tetap pada vaksin influenza trivalent untuk melindungi seluruh anggota keluarga, dari bayi hingga lansia, dengan harga yang lebih ekonomis sehingga dapat diberikan setiap tahun. Jadwal imunisasi anak dan dan dewasa juga tetap sama,” tambah Soedjatmiko.

Meski sering dianggap sebagai penyakit ringan, influenza dapat menimbulkan dampak serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Baca juga:

DPR Dorong Vaksinasi Influenza Siswa Cegah Superflu, Sekolah Diharap Terapkan Protokol Kesehatan

Secara global, angka kejadian influenza pada anak mencapai 20–30 persen, lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa.

Data surveilans Influenza Like Illness (ILI) di Jawa Barat tahun 2023 juga menunjukkan bahwa kasus terbanyak terjadi pada anak usia 5–15 tahun, meskipun infeksi dapat menyerang semua kelompok usia.

“Anak-anak berkontribusi lebih besar terhadap penyebaran influenza di masyarakat karena daya tularnya yang tinggi dan keberadaan virus influenza di dalam tubuh anak yang lebih lama dibandingkan orang dewasa, sehingga sudah bisa menularkan walaupun belum ada gejala atau sesudah sembuh dari sakit influenza. Komplikasi influenza pada anak juga termasuk serius dan membahayakan, seperti pneumonia, infeksi telinga, infeksi sinus, hingga ensefalitis,” jelas Kanya Ayu.

Lebih lanjut, dr. Kanya menambahkan bahwa angka rawat inap pada anak usia pra-sekolah sebanding dengan kelompok usia 50 hingga 64 tahun. Oleh karena itu, vaksinasi influenza tahunan sangat dianjurkan, bahkan sejak usia 6 bulan.

Vaksin menjadi langkah pencegahan utama untuk menekan angka kematian dan rawat inap akibat influenza, sekaligus mengurangi risiko penularan kepada kelompok lansia yang tinggal dalam satu rumah. (Far)

Baca Artikel Asli