Merahputih.com - Gunung Anak Krakatau, penjaga geologis di antara pesisir barat Lampung dan Banten, dilaporkan kembali bergolak hebat.
Peningkatan drastis aktivitas vulkanik memaksa Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengubah status mitigasi demi menghindari potensi bencana fatal di kawasan wisata dan jalur pelayaran tersebut.
Baca juga:
Mandat Prabowo, Kumpulkan Sperma & Ovum Badak Jawa Antisipasi Ancaman Erupsi Anak Krakatau
Status yang semula berada pada Level II (Waspada) kini melonjak naik menjadi Level III (Siaga) mulai Jumat (3/7).
Peningkatan aktivitas ini menunjukkan adanya suplai magma ke permukaan, sehingga masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius telah direkomendasikan,
ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria.
Deteksi Akumulasi Tekanan Magma Dangkal
Keputusan menaikkan status ini merujuk pada hasil pemantauan visual serta instrumental komprehensif dalam beberapa waktu terakhir.

Pergerakan fluida panas dari perut bumi memicu rentetan gempa permukaan sekaligus mengubah struktur fisik tubuh gunung.
Berdasarkan rilis resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, berikut data lengkap kondisi teknis Gunung Anak Krakatau:
-
Perubahan Status Aktivitas: Meningkat dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga).
-
Radius Zona Bahaya: Steril dari segala aktivitas manusia sejauh 5 kilometer dari kawah aktif.
-
Indikator Deformasi: Alat tiltmeter di sejumlah stasiun menunjukkan kecenderungan inflasi (pembengkakan tubuh gunung).
-
Penyebab Utama: Akumulasi tekanan akibat pasokan magma segar menuju kompartemen dangkal.
-
Potensi Ancaman Fisik: Erupsi mendadak, awan panas, serta lontaran material pijar berukuran besar.
-
Durasi Pengawasan: Pemantauan nonstop selama 24 jam memanfaatkan jaringan seismik dan pemantauan visual.
Penguatan Jalur Mitigasi Pesisir
Menyikapi perkembangan ini, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi ketat bagi para nelayan, wisatawan, serta masyarakat lokal.
Larangan mendekat dalam radius lima kilometer menjadi harga mati guna mengantisipasi lontaran material vulkanik jika terjadi letusan mendadak. Pemprov Banten dan Pemprov Lampung juga diminta segera menyelaraskan jalur evakuasi warga.
Baca juga:
PHK Krakatau Osaka Steel Jadi Alarm, DPR Desak Pemerintah Selamatkan Industri Baja Nasional
Pemerintah daerah bersama instansi terkait kini mulai memperkuat koordinasi lapangan guna mematangkan langkah mitigasi lanjutan. Warga pesisir pantai Selat Sunda diimbau tetap tenang, tidak mempercayai berita bohong (hoaks), serta selalu mengikuti instruksi resmi dari petugas pos pengamatan gunung api terdekat.