MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank dibuka cenderung stagnan di kisaran Rp14.810 per dolar AS pagi tadi. Namun, kurs rupiah diprediksi masih rentan mengalami depresiasi terhadap dolar AS.
Pada penutupan transaksi antarbank di Senin (3/9) sore kemarin, rupiah melemah sebesar 126 poin menjadi ke Rp14.815 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.689 per dolar AS.
"Dolar AS masih cenderung menguat terhadap hampir semua mata uang dunia. Perundingan perdagangan bebas yang buntu antara Amerika Serikat dan Kanada masih mendorong ketidakpastian di pasar," kata Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail di Jakarta, Selasa (4/9)
Di tengah situasi itu, lanjut dia, investor akan melirik dolar AS sebagai aset "safe heaven", sehingga dapat berdampak pada pelemahan rupiah. Terpantau pada pukul 09.45 WIB, dilaporkan Antara, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi ke level Rp14.827 per dolar AS.
Samuel menambahkan sentimen mengenai data PMI Tiongkok bulan Agustus yang cenderung menurun juga dapat menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Kemungkinan ekspor Indonesia melambat ke Tiongkok akibat perlambatan data itu.
Chief Market Strategist FXTM, Hussein Sayed menambahkan pada pekan lalu, investor berharap perkembangan positif antara Amerika Serikat dan Meksiko dapat meluas ke Kanada, Eropa, dan mungkin Tiongkok. Namun optimisme itu mereda ketika AS gagal mencapai kesepakatan dengan Kanada.
"Trump juga mungkin memperburuk perang dagang apabila ia memutuskan untuk menerapkan tarif 200 miliar dolar AS terhadap barang Tiongkok," katanya. (*)