Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup Fun

Ciliate, Si Kecil Pemangsa Bulu Babi

Hendaru Tri Hanggoro - Minggu, 02 Juli 2023

POPULASI bulu babi di sepanjang pantai Karibia dan Timur Florida tiba-tiba saja menurun drastis sepanjang 2022. Penurunan populasi dinilai mengancam ekosistem laut karena keberadaan bulu babi penting bagi keberlangsungan terumbu karang.

Selama beberapa lama, para peneliti sempat kebingungan mencari penyebabnya. Titik terang muncul pada pertengahan 2023.

Para peneliti akhirnya menemukan penyebab penurunan populasi bulu babi secara drastis. Mya Breitbart, Profesor Universitas Terkemuka di Sekolah Tinggi Ilmu Kelautan Universitas Florida Selatan, mengidentifikasi organisme bersel tunggal yang disebut Ciliate sebagai penyebab kematian besar-besaran bulu babi.

“Kami sangat senang bisa mengungkap misteri 2022 dan sedikit terkejut kami melakukannya dengan sangat cepat. Kami memiliki tim yang hebat dan alat yang diperlukan untuk melakukan ilmu kelautan setara dengan penyelidikan forensik,” kata Breitbart kepada sciencedaily.com.

Baca juga:

Bulu Babi, Hewan Laut yang Harus Kamu Waspadai

ciliate
Peneliti menumbuhkan ciliate di laboratorium dan memasukkannya ke dalam tangki bulu babi. (Foto: Freepik/Freepik)

Ciliate adalah makhluk mikroskopis yang memiliki struktur berupa rambut halus yang disebut silia yang berfungsi untuk membantu mereka bergerak dan makan. Mereka dapat ditemukan hampir di seluruh tempat yang memiliki air. Kebanyakan tidak menjadi agen penyebab penyakit.

Namun, ada suatu jenis ciliate yang disebut scuticociliate yang terlibat dalam kematian spesies laut lainnya, seperti hiu yang terjadi di masa lalu.

Untuk mengidentifikasi sumber peristiwa kematian tersebut, sebuah tim peneliti meneliti bulu babi yang dikumpulkan dari 23 lokasi di Karibia. Mereka menggunakan berbagai teknik untuk mengonfirmasi bahwa ciliate merupakan penyebab dari kematian tersebut.

Setelah mengidentifikasi keberadaan ciliate pada setiap spesimen bulu babi menggunakan teknik genomik, tim tersebut menumbuhkan ciliate di laboratorium dan melakukan percobaan infeksi di USF College of Marine Science.

Hasilnya menunjukkan bahwa ketika patogen tersebut dimasukkan tangki akuarium yang berisi bulu babi yang sehat, maka bulu babi tersebut mati dalam beberapa hari.

Baca juga:

UNDP dan UNEP Ajak Masyarakat Jaga Ekosistem Laut

ciliate
Ciliate umumnya tidak berbahaya, kecuali jenis khusus scuticociliate. (Foto: Science Direct)

Temuan ini mereplikasi apa yang terjadi di laut dan membuktikan bahwa ciliate merupakan sumber penyakit yang menyebabkan kematian spesies laut lainnya.

“Pada saat itu, kami tidak tahu apakah kematian ini disebabkan oleh polusi, stres, atau hal lain. Kami benar-benar tidak tahu,” kata rekan peneliti Ian Hewson.

Breitbart lega setelah penyebab kematian massal bulu babi ditemukan. Dengan demikian ia dapat menghentikan penyebarannya dan menyelamatkan ekosistem laut.

“Kami senang berbagi informasi ini dengan semua orang, mulai dari pengelola terumbu karang hingga ilmuwan tambahan sehingga kami dapat menjelajahinya lebih jauh dan mencoba menghentikan penyebarannya,” tutup Breitbart. (kmp)

Baca juga:

Museum Bawah Air ini Ingatkan Semua Tentang Ekosistem Laut



Baca Artikel Asli