Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

BI Klaim Rupiah Anjlok Sampai Rp15.160 Masih Aman, Kok Bisa?

Wisnu Cipto - Jumat, 05 Oktober 2018

MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah terus anjlok melampaui batas Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Jumat (5/10) pagi ini transaksi antar bank rupiah kembali turun 10 poin menjadi Rp15.160 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.150 per dolar AS.

Kemarin, nilai tukar rupiah ditutup bergerak melemah sebesar 86 poin menjadi Rp15.150 dibandingkan posisi pembukaan Kamis (4/10) pagi Rp15.064 per dolar AS. Total pelemahan rupiah sudah lebih dari 160 poin melewati batas Rp15.000 per dolar.

Meski terus anjlok, Bank Indonesia tetap mengklaim posisi rupiah masih dalam batas aman karena kondisi di sektor perbankan dinilai memiliki daya tahan dalam menghadapi depresiasi kurs.

Bank Indonesia
Bank Indonesia. (Dok BI)

"Sektor perbankan kuat. Semua bank kategori BUKU I-IV, CAR (Capital Adequacy Ratio/rasio kecukupan modal bank)-nya di atas 20 persen," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, dilansir dari Antara, Jumat (5/10).

Menurut Mirza, rasio kecukupan modal yang dianggap sehat bagi bank adalah minimum 8,5 persen sampai dengan 14 persen apabila memerhatikan aspek risiko. BI juga selalu memperhatikan kondisi likuiditas di pasar dan memandang saat ini likuiditas masih cukup meskipun sebelumnya BI 7-Day Reverse Repo Rate dinaikkan 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen.

"Kalau BI sudah menaikkan 150 bps, bunga di pasar time deposit itu kenaikannya belum sampai 50 bps jadi masih terkendali. BI selalu siap membuka keran likuiditas dengan fasilitas term repo. BI pasti akan masuk ke pasar jika memang likuiditas rupiah mengetat," beber pejabat tinggi BI itu.

rupiah
Seorang pegawai money changer menunjukkan uang dolar AS (Foto: MerahPutih/Rizki Fitrianto)

Mirza juga meminta agar kondisi pelemahan rupiah jangan hanya dilihat posisi angkanya yang sudah melebihi level psikologis baru di atas Rp15 ribu. Aspek volatilitas serta pasokan dan permintaan juga perlu diperhatikan.

"Kita ini sudah mengalami volatilitas sejak 2013, tapi bukan cuma Indonesia. India, Filipina, Meksiko, Brasil, Afrika Selatan, dan bahkan negara maju yang suku bunganya lebih rendah dari AS juga mengalami pelemahan kurs," tandas dia. (*)

Baca Artikel Asli